Pesantren Garogol official website | Members area : Register | Sign in
Showing posts with label Sejarah Persis. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Persis. Show all posts

Mengenal Tokoh-Tokoh Persis

Friday, October 8, 2010

Pada postingan berikut ini, saya tulis ulang profile singkat tokoh-tokoh persatuan islam atau istilah dalam organisasi persis di sebut pimpinan pusat persatuan islam.
Mohammad NatsirDilahirkan di Kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatra Barat, pada 17 Juli 1908. Ia adalah putra pasangan Sutan Saripado-seorang pegawai pemerintah-dan Khadijah. Ia pergi ke Bandung pada 1927 untuk melanjutkan studinya di AMS A-2 (setingkat SMA sekarang).
Di Kota Kembang ini, minat Natsir terhadap agama semakin berkembang. Karena itu, selama di Bandung, Nastir berusaha memperdalam ilmu agamanya dengan mengikuti pengajian-pengajian Persis yang disampaikan Ahmad Hassan.

Selain itu, Natsir juga mengikuti pelajaran agama di kelas khusus yang diadakan oleh Ahmad Hassan untuk anggota muda Persis yang sedang belajar di sekolah milik Pemerintah Belanda. Bahkan, dengan inisiatif Natsir, Persis kemudian mendirikan berbagai lembaga pendidikan, antara lain ( Pendis ) dan Natsir sebagai direkturnya ( 1932-1942 ) serta Pesantren Persatuan Islam pada 4 Maret 1936.
Keberadaan sekolah-sekolah ini ditujukan untuk membentuk kader-kader yang mempunyai keinginan memperdalam dan mampu mendakwahkan, mengajarkan, dan membela ajaran Islam. Natsir adalah orang yang terlibat langsung dalam proses kaderisasi di bawah bimbingan Ahmad Hassan.

Dengan demikian, Natsir mempunyai hubungan yang dekat dengan Persis. Di bawah kepemimpinannya, Persis menjelma menjadi organisasi yang bukan hanya berupa kelompok diskusi atau pengajian tadarusan kelas pinggiran, melainkan sebuah organisasi Islam modern yang potensial. Dalam waktu singkat, ia berhasil menempatkan Persis dalam barisan organisasi Islam modern.

Mohammad Isa Anshary

Masa setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan periode kedua Persis sesudah kepemimpinan KH Zamzam, KH Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Mohammad Natsir yang mendengungkan slogan “Kembali kepada Alquran dan As-Sunnah”. Pada periode kedua ini, salah seorang yang pernah memimpin adalah KH Mohammad Isa Anshary.

KH Mohammad Isa Anshary lahir di Maninjau Sumatra Tengah pada 1 Juli 1916. Pada usia 16 tahun, setelah menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Islam di tempat kelahirannya, ia merantau ke Bandung untuk mengikuti berbagai kursus ilmu pengetahuan umum. Di Bandung pula, ia memperluas cakrawala keislamannya dalam Jam’iyyah Persis hingga menjadi ketua umum Persis.

Tampilnya Isa Anshary sebagai pucuk pimpinan Persis dimulai pada 1940 ketika ia menjadi anggota hoofbestuur ( Pusat Pimpinan ) Persis. Tahun 1948, ia melakukan reorganisasi Persis yang mengalami kevakuman sejak masa pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan. Tahun 1953 hingga 1960, ia terpilih menjadi ketua umum Pusat Pimpinan Persis.

Selain sebagai mubaligh, Isa Anshary juga dikenal sebagai penulis yang tajam. Ia termasuk salah seorang perancang Qanun Asasi Persis yang telah diterima secara bulat oleh Muktamar V Persis ( 1953 ) dan disempurnakan pada Muktamar VIII Persis ( 1967 ).

Dalam sikap jihadnya, Isa Anshary menganggap perjuangan Persis sungguh vital dan kompleks karena menyangkut berbagai bidang kehidupan umat. Dalam bidang pembinaan kader, Isa Anshary menekankan pentingnya sebuah madrasah, tempat membina kader-kader muda Persis.

Semangatnya dalam hal pembinaan kader tidak pernah padam meskipun ia mendekam dalam tahanan Orde Lama di Madiun. Kepada Yahya Wardi yang menjabat ketua umum Pimpinan Pusat Pemuda Persis periode 1956-1962, Isa Anshary mengirimkan naskah “Renungan 40 Tahun Persatuan Islam” yang ia susun dalam tahanan untuk disebarkan kepada peserta muktamar dalam rangka meningkatkan kesadaran jamaah Persis.
Melalui tulisannya, Isa Anshary mencoba menghidupkan semangat para kadernya dalam usaha mengembangkan serta menyebarkan agama Islam dan perjuangan organisasi Persis. Semangat ini terus ia gelorakan hingga wafatnya pada 2 Syawal 1389 H yang bertepatan dengan 11 Desember 1969.

KHE Abdurrahman

KH Endang Abdurrahman tampil sebagai sosok ulama rendah hati, berwibawa, dan berwawasan luas. Dengan gaya kepemimpinan yang luwes, ia telah membawa Persis pada garis perjuangan yang berbeda: tampil low profile dengan pendekatan persuasif edukatif, tanpa kesan keras, tetapi teguh dalam prinsip berdasarkan Al-Quran dan Sunnah.

Abdurrahman dilahirkan di Kampung Pasarean, Desa Bojong Herang, Kabupaten Cianjur, pada Rabu, 12 Juni 1912. Ia merupakan putra tertua dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Ghazali, seorang penjahit pakaian, dan ibunya bernama Hafsah, seorang perajin batik.

KH Aburrahman dikenal sebagai seorang ulama besar dan ahli hukum yang tawadhu. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menelaah kitab-kitab, mengajar di pesantren, dan hampir setiap malam mengisi berbagai pengajian.

Sosok ulama Persis yang satu ini, sebagaimana ditulis Fauzi Nur Wahid dalam bukunya KHE Abdurrahman: Peranannya dalam Organisasi Persatuan Islam, semula memiliki pemahaman keagamaan yang bersifat tradisional. Namun, pada kemudian hari, ia beralih menjadi ulama yang berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah serta menentang berbagai ibadah, khurafat, dan takhayul.

Pada masa kepemimpinannya, banyak persoalan mendasar yang dihadapi Persis. Di antaranya, bagaimana mempertahankan eksistensi Persis di tengah gejolak sosial politik yang tidak menentu. Jihad perjuangan Persis dihadapkan pada masalah-masalah politik yang beragam.

Selain itu, Persis juga berhadapan dengan aliran-aliran yang dianggap menyesatkan umat Islam. Untuk menghadapi aliran tersebut, ia memerintahkan para mubaligh Persis dan organisasi yang ada di bawah Persis untuk terjun ke daerah-daerah secara rutin dalam membimbing umat.

KH Abdul Latief Muchtar

Dilahirkan di Garut pada 7 Januari 1931 dari pasangan H Muchtar dan Hj Memeh. Sejak kecil, KH Abdul Latief Muchtar sudah bersentuhan dengan Persis hingga akhirnya menjadi ketua umum Persis, menggantikan KHE Abdurrahman yang wafat.

Jika Persis kini tampak low profile, itu semua tidak lepas dari kepemimpinan KH Abdul Latief. Pada masa kepemimpinannya, Persis berjuang menyesuaikan diri dengan kebutuhan umat pada masanya yang lebih realistis dan kritis.

Pada masa awal jabatannya sebagai ketua umum Persis, KH Abdul Latief dihadapkan pada keguncangan jamaah Persis karena adanya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 yang menuntut semua organisasi kemasyarakatan ( ormas ) di Indonesia mencantumkan asas tunggal Pancasila sebagai asas dalam anggaran dasar organisasinya. Persoalan asas tunggal ini dihadapi dengan visi dan pemikiran KH Latief yang akomodatif. Ia mencoba menjembatani persoalan ini dengan baik.

Dalam bidang jam’iyyah ( organisasi ), KH Latief bertekad menjadikan organisasi Persis makin terbuka ( inklusif ). Persis harus mampu diterima semua kalangan, tanpa ada kelompok yang merasa takut dengan keberadaannya.

KH Latief bercita-cita mengembangkan objek dakwahnya ke lingkungan kampus. Baginya, kampus adalah lembaga intelektual yang harus dirangkul dan diisi dengan materi dakwah yang tepat. Karena itulah, ia mendukung sepenuhnya pembentukan organisasi otonom mahasiswa Persis di berbagai perguruan tinggi dalam satu wadah Himpunan Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswi Persis.

sumber : iluni-ppigarogol.blogspot.com


A Hassan Ulama Besar Persis

Walaupun bukan pendiri Persatuan islam ( Persis ), namun A Hassan sosok yang paling berpengaruh dan merupakan guru central bagi persatuan islam. karya-karya nya menjadi rujukan bagi generasi penerus persis  sampai saat ini, terutama buku “ Soal Jawab “, Tafsir Qur’an “ Al-Furqon “, dan tentang Tauhid – yang masih di pelajari sebagian santri pesantren persatuan islam.

Menurut dari berbagai buku sejarah, A. Hasan adalah sosok ulama yang aktif dalam mengkaji Islam dan aktif pula dalam berdakwah, dalam hal ini A. Hassan sangat menaruh perhatian terhadap para pemuda Islam yang sedang bersekolah di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial Belanda yang sangat kurang memberikan pelajaran agama Islam.

A. Hassan menyadari bahwa anak-anak muda yang tengah menuntut ilmu itu adalah calon pemimpin di masa datang yang perlu dibekali dengan pengetahuan agama yang memadai. Tekad A. Hassan untuk menarik para pemuda pelajar itu sangat kuat, bagaimanapun sibuknya, ia senantiasa menyempatkan diri untuk berbicara dengan para pemuda pelajar itu. Ditundanya pekerjaan yang sedang dikerjakannya, baik sedang mengoreksi buku atau sedang menyusun tafsir, bercakap-cakap dengan para pemuda calon pemimpin umat itu Dinggapnya lebih penting.

Diantara murid-murid sekolah menengah yang sering ke rumah A. Hassan untuk bertanya dan membahas soal-soal agama Islam adalah Moehammad Natsir. Moehammad Natsir dilahirkan di Alahan Panjang Sumatra Barat pada tanggal 17 juli 1908, ia adalah anak seorang pegawai pemerintah.
Moehammad Natsir tinggal di Bandung sejak tahun 1927 untuk melanjutkan studinya pada AMS (Algemene middelbare school setingkat SMA sekarang) setelah ia menyelesaikan sekolah dasarnya di HIS (Hollandsch Inlandsch school) dan sekolah menengah pertamanya di MULO (meet Uitgebreid Lager Onderwijs) di Minangkabau. Selain menyelesaikan sekoah formalnya, Natsir pun pernah belajar di sekolah agama di Solok yang dipimpin oleh Tuanku Mudo Amin, seorang pengikut dan kawan Haji Rasul tokoh gerakan pembaharuan Islam di Sumatra Barat. Ia juga mengikuti pelajaran agama secara teratur yang diberikan oleh Haji Abdullah Ahmad di Padang. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa Moehammad Natsir telah mengenal ajaran-ajaran kelompok pembaharu sejak kecil (Delar Noer, 1985:100).

Di Bandung, minat Natsir terhadap agama semakin tinggi. Pada tahun 1929 ia mulai mengajar agama Islam di HIK (Hollands Inlandsche Kweekschool; sekolah guru) dan MULO. Selain itu ia berusaha memperdalam agamanya dengan turut serta secara teratur mengikuti shalat jum’at dan pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh Persis serta mengikuti pelajaran agama di kelas khusus yang diadakan oleh A. Hassan untuk para pemuda pelajar yang sedang belajar di berbagai sekolah milik pemerintah Belanda.
Moehammad Natsir adalah orang yang terlibat dalam proses kaderisasi dibawah bimbingan A. Hassan. Dalam proses kaderisasi ini, Natsir mengalaminya pula dalam organisasi Jong Islamieten Bond cabang Bandung di bawah bimbingan Agus Salim.

A.Hassan telah berhasil memberikan pemahaman keagamaan yang kuat hingga banyak melahirkan sosok ulama potensial. Moehammad Natsir menjadi orang yang beruntung mendapat warisan kecendekiaan Agus Salim dan warisan keulamaan A. Hassan. Hasilnya, Moehammad Natsir pernah menduduki berbagai jabatan penting, antara lain Ketua Pusat Pimpinan Persis, Ketua Partai Islam Indonesia Cabang Bandung pada zaman kolonial Belanda, Ketua Umum DPP Partai Masyumi, Perdana Mentri RI, Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), disamping kedudukannya sebagai Wakil Presiden Mu’tamar Al-Alam Al-Islami dan anggota Majelis Ta’sisi Rabithah Al-Alam Al-Islami (Endang Syaifuddin Anshary, 1985:23).

Selain Moehammad Natsir, tokoh-tokoh ulama dan politikus yang pernah menjadi murudnya antara lain adalah K.H.M Isa Anshary yang pernah menjadi Ketua Umum Pusat Pimpinan Persis (1948-1960); Ketua Umum Masyumi Jawa Barat dan anggota DPP Masyumi. Moehammad Natsir dan Isa Anshary dalam pandangan politiknya  merupakan lawan dari Soekarno, yang juga pernah berguru kepada A. Hassan dalam berbagai persoalan keagamaan. Demikian pula Ustadz K.H.E Abdurrahman, Pemimpin pesantren Persis Bandung dan Ketua Umum Pusat Pimpinan Persis (1962-1983) yang juga pengasuh majalah At-Taqwa dan majalah Risalah adalah murud A. Hassan yang melanjutkan mengelola pesantren Persis di Bandung sejak ditinggalkan pindah oleh A. Hassan ke Bangil pada tahun 1941.

Diantara murud-murudnya yang lain yang kemudian menjadi ulama besar dan memimpin pesantren-pesantren besar, adalah Ustadz Abdul Qadir Hassan, putra tertua A. Hassan, yang memimpin pesantren Persis di Bangil dan pengasuh majalah Al-Muslimun serata pernah menjadi ketua Majelis Ulama Persis (sekarang Dewan Hisbah); K.H.O.Qomaruddin Shaleh, oensyarah dan pernah menjadi Wakil Ketua Pusat Pimpinan Persis; K.H.M. Rusyad Nurdin, pensyarah di beberapa perguruan tinggi, ulama tekenal, dan pernah menjadi Wakil Ketua Pusat Pimpinan Persis dan Ketua DDII perwakilan Jawa Barat; Fakhroeddin Al-Khahiri, ulama besar teman seperjuangan Moehammad Natsir pada saat berguru kepada A. Hassan; dan masih banyak lagi ulama-ulama di daerah yang menjadi guru, ulama, mubaligh dan aktivis dalam berbagai organisasi keislaman, terutama para santri Persis angkatan pertama yang menjadi pelopor dan penggerak tegaknya Qur’an-Sunnah di tempat asal mereka.

Disamping itu dapat pula diungkapkan beberapa kawan seperjuangan A. Hassan dalam menegakan Al-Qur’an dan Sunnah, disamping menjadi teman berdialog A. Hassan yang banyak menerima berbagai pemikiran yang dikemukakan A. Hassan, antara lain Ustadz Moenawar Chalil (Semarang), Ustadz K.H. Imam Ghazali (Jamsaran Solo), Prof. Dr. T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy (Yogyakarta), Ustadz Abdullah Ahmad (Jakarta), Ustadz M. Ali Hamidy (Jakarta), Ustadz Abdul Hakim dan Ustadz H. Zainuddin Hamidy (Minangkabau) dan lain-lain.

sumber : iluni-ppigarogol.blogspot.com

Sekilas Tentang Sejarah Munculnya Persistri


Persatuan Islam Istri atau disngkat Persistri adalah satu badan otonom Persatuan Islam (Persis) disamping badan otonom lainnya seperti Pemuda Persis, Pemudi Persis, Hima Persis dan HIMI Persis.  Persistri berperan dalam membantu Persis untuk mengembangkan bidang pembinaan perempuan terutama yang berusia di atas 35 tahun.
Persistri diresmikan dalam konferensi III Persis di Gedung Persis, Jl. Pangeran Sumedag (sekarang Jl. Otto iskandardinata), Bandung yang dihadiri 300 peserta, pada 11 Syawal 1355 bertepatan dengan 25 Desember 1936, kurang lebih 13 tahun setelah Persis berdiri. Dalam konferensi tersebut diputuskan Qanun Persis baru, Qanun Persistri sebagai bagian istri dari Persis, dan Qanun Pendidikan Islam sebagai bagian sekolah.
Selanjutnya Persistri dibina oleh Persis sebagai pelopor perjuangan dalam bidang keperempuanan dengan hak otonomi sebagaimana tertuang dalam Qanun Persis. Persistri didirikan untuk melaksanakan rencana jihad Persis dalam masalah pendidikan, dakwah, dan kemasyarakatan di kalangan perempuan.
Peran ini sesuai visi Persistri , yaitu terciptanya masyarakat perempuan yang berpegang teguh pada Syariat Islam berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw. Serta misinya syariat Islam tersebar merata dan diamalkan dalam segala aspek kehidupan selirih anggota Persistri.
Anggota Persistri dibina dan diarahkan agar mampu memahami dan melaksanakan ajaran Islam secara kafah (sempurna) serta menjadi contoh teladan yang sejalan dengan Al-Quran dan Sunnah dalam masalah ibadah, aqidah, muamalah, serta akhlak dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat.
Sejak diresmikan pada tahun 1936 hingga sekarang, Persistri telah dipimpin oleh 6 orang yang memimpin rencana jihadnya, yaitu Hj. E. Mariam Abdurrahman        (1936-1956), Hj. Hodijah Muchtar (1957-1980), Hj. Euis Tasriyah Emam (1980-1990), Hj. E. Aisyah Wargadinata, LC (1990-2000), Hj. R. Rokayah Syarief (2000-2005) serta Dra. Titin Suprihatin, M,Hum (2005-2010)
Para pemimpin Persistri di seluruh jenjang jam’iyah sejak PP, PW, PD, PC, hingga PJ berusaha keras agar anggota Persistri memahami ajaran Islam melalui pendidikan, latihan, dan dakwah, serta berupaya keras untuk mempermudah aggota dalam melaksanakan ajaran Islam secara kaffah dengan berbagai macam upaya sebagaimana tertuang dalam nidzam jam’iyah Persistri.

Sejarah ( Persis ) Persatuan Islam

Berdirinya Persatuan Islam (Persis) diawali dengan terbentuknya suatu kelompok tadarusan yang bermula dari sebuah kenduri keluarga di kota Bandung tepatnya di gang Pakgade. Kelompok ini dipimpin oleh H. Muhammad Zamzam dan H. Muhammad Yunus. Bersama jama’ahnya dengan penuh kecintaan mereka mengkaji dan mengaji ajaran Islam.

Persis secara formal didirikan pada tanggal 12 September 1923 di Bandung,, oleh sekelompok umat Islam yang tertarik pada kajian dan aktivitas keagamaan. Sebelumnya juga sudah berdiri beberapa oraganisasi gerakan dan klub untuk tujuan religius, sosial, pendidikan, politik dan ekonomi di Indonesia. Seperti Budi Utomo pada 1908, Sarikat Islam pada tahun 1912 dan Muhammadiyyah pada tahun 1912.

Sejak berdirinya Persis yang menggolongkan dirinya sebagai harakah tajdid (Gerakan Pembaharu) yang bertujuan memurnikan ibadah umat dari takhayul, bid’ah, dan churafat (TBC) sangat giat melaksanakan penyebaran faham Al-Qur-an dan As-sunah. Gerakan pemurnian (furipikasi) agama Islam dilakukan dengan isu kontroversial yang bersifat gebrakan (shock therapy) dalam pendekatan yang lebih polemik dan mengundang kontroversi bahkan terkesan revolusioner. Pemurnian aqidah dan perbaikan ibadah, dilakukan karena Persis memandang telah terjadi kerusakan akidah (pencemaran) dan penyimpangan praktek ibadah pada umat Islam.

Kepemimpinan Persis periode pertama (1923 1942) berada di bawah pimpinan H. Zamzam, H. Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Muhammad Natsir yang menjalankan roda organisasi pada masa penjajahan kolonial Belanda, dan menghadapi tantangan yang berat dalam menyebarkan ide-ide dan pemikirannya.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), ketika semua organisasi Islam dibekukan, para pimpinan dan anggota Persis bergerak sendiri-sendiri menentang usaha Niponisasi dan pemusyrikan ala Jepang. Hingga menjelang proklamasi kemerdekaan Pasca kemerdekaan. Persis mulai melakukan reorganisasi untuk menyusun kembali system organisasi yang telah dibekukan selama pendudukan Jepang, Melalui reorganisasi tahun 1941, kepemimpinan Persis dipegang oleh para ulama generasi kedua diantaranya KH. Muhammad Isa Anshari sebagai ketua umum Persis (1948-1960), K.H.E. Abdurahman, Fakhruddin Al-Khahiri, K.H.O. Qomaruddin Saleh, dll. Pada masa ini Persis dihadapkan pada pergolakan politik yang belum stabil; pemerintah Republik Indonesia sepertinya mulai tergiring ke arah demokrasi terpimpin yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno dan mengarah pada pembentukan negara dan masyarakat dengan ideology Nasionalis, Agama, Komunis (Nasakom).

Setelah berakhirnya periode kepemimpinan K.H. Muhammad Isa Anshary, kepemimpinan Persis dipegang oleh K.H.E. Abdurahman (1962-1982) yang dihadapkan pada berbagai persoalan internal dalam organisasi maupun persoalan eksternal dengan munculnya berbagai aliran keagamaan yang menyesatkan seperti aliran pembaharu Isa Bugis, Islam Jama’ah, Darul Hadits, Inkarus Sunnah, Syi’ah, Ahmadiyyah dan faham sesat lainnya.

Kepemimpinan K.H.E. Abdurahman dilanjutkan oleh K.H.A. Latif Muchtar, MA. (1983-1997) dan K.H. Shiddiq Amien (1997-2005 dan 2005-2009)

Dari Redaksi

NyantriTek

Labels

berita (1) bina dawah (5) dari redaksi (4) KItab Kuning (1) kumpulan bid'ah (2) NyantriTek (1) oot (1) persis (1) Sejarah Persis (4) Tarikh (1)