Pesantren Garogol official website | Members area : Register | Sign in

Kekalahan Dan Kemenangan Kaum Muslimin Atas Tentara Tartar Mongol, Antara Khurosan, Baghdad dan Ain Jalut

Monday, May 20, 2013

Gempuran Tatar ke Negara- Negara  Islam (617 H dan 628 H)

Peristiwa- peristiwa serial penyerbuan tentara Tartar Mongol meninggalkan kepedihan mendalam bagi ummat Islam, dimana lebih satu jiwa kaum muslimin dibantai dengan amat kejam oleh tentara Tartar dan sekutunya.

Serangan Tatar ke atas umat Islam yang kala itu di bawah pimpinan kerajaan Abbasiah sebenarnya tidak terjadi  hanya pada tahun 656 H di dalam peristiwa kejatuhan Baghdad. Sebaliknya sebelum itu sudah ada dua serial serangan pendahuluan  Tatar yaitu pada tahun 617 H dan 628 H, ke negeri- negeri penyangga Baghdad.

Serangan pertama Tatar ke atas umat Islam terjadi pada tahun 617 H – 620 H di bawah pimpinan Genghis Khan. Serangan kali pertama ini sebab – musababnya yang diperselisihkan oleh ahli sejarah Islam. Menurut  Dr. Raghib as-Sarjani lebih cenderung untuk mengatakan bahwa niat untuk menjatuhkan kerajaan Abbasiah memang telah wujud di dalam hati Genghis Khan sejak sekian lama.

Oleh karena jarak yang jauh dari bumi China ke bumi Iraq (lebih dari 7000 km), Genghis Khan menumpukan serangan pertamanya pada kali ini ke atas bumi Afghanistan dan Uzbekistan, yang   dipilih karena ia mempunyai sumber alam bahan logistik yang banyak dan amat sesuai untuk dijadikan pengkalan tentara Tatar untuk melakukan serangan gelombang demi gelombang.

Serangan pertama ini sukses. Tatar berhasil menapakkan kakinya di bumi tersebut dan bumi sekitarnya (Turkimenistan, Kazakhastan, Tajikistan, Pakistan dan sebahagian dari Iran). Kesemua negara-negara ini dahulunya dikenali sebagai Daulah Khawarizmiah atau daerah Khurosan Kubro. Hasil dari keberhasilan ini, pemerintahan Tatar mulai kokoh di kawasan tersebut. Mereka mempunyai pangkalan dan pusat komando mereka di tengah-tengah kerajaan Islam.

Serangan kedua Tatar atas umat Islam pula terjadi pada tahun 628 H. Pada tahun 624 H, pada saat Genghis Khan telah digantikan oleh seorang lagi raja Tatar yang tidak kurang bengisnya yaitu Okitai. Kerajaan Tatar di Mongolia dan China pada masa itu berada dalam keadaan stabil dan kuat. Keadaan ini memberikan banyak kelebihan kepada Okitai.

Lalu dimulailah serangan kedua Tatar ke atas umat Islam sebagai menyambung serangan yang pertama di zaman Genghis Khan. Serangan pada kali ini diutamakan  di sekitar tanah Rusia dan Eropa. Okitai melantik panglima perangnya, Syurmajan untuk mengepalai serangan pada kali ini.

Keadaan Kaum Muslimin Saat Itu: Cinta Dunia dan Takut Mati

Suasana bertambah buruk pada serangan kedua ini karena pimpinan Islam pada masa itu berada dalam keadaan berpecah belah. Saat itu sebahagian umat pula telah mulai menunjukkan sikap pengecutnya dan tidak berani untuk melancarkan jihad sebagaimana keadaannya di prediksi oleh Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadistnya:

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745)

Ibnu al-Athir di dalam kitabnya al-Kamil meriwayatkan beberapa cerita yang didengarnya daripada sebahagian umat Islam yang berhasil lolos dari pembantaian pada serangan kedua ini.

Di antaranya:

a. Ada seorang tentera Tatar masuk ke dalam sebuah perkampungan seorang diri. Kemudian dia membunuh penduduk kampung tersebut seorang demi seorang tanpa mendapat tentangan dari siapa pun.

b. Seorang tentera Tatar menangkap seorang muslim. Oleh kerana tentera Tatar tersebut tidak bersenjata, dia telah memerintahkan pemuda muslim tadi agar menelungkupkan mukanya ke tanah dan tidak bergerak, untuk menunggu tentera Tatar tersebut pulang mengambil senjata dan kemudian datang kembali lalu membunuh pemuda tersebut.

c. Tentera Tatar memasuki kota Badlis (sekarang berada di selatan Turki). Jalan lewat ke kota tersebut adalah lembah di celah-celah bukit yang sungguh sempit. Yernyata tidak ada seorang pun tentera Islam yang berhasil melepaskan diri dari serangan Tatar di kota tersebut. Penduduk kota tersebut pun melarikan diri ke atas bukit dan membiarkan Tatar membakar keseluruhan kota tersebut. Padahal, jika tentara muslimin tidak ciut nyalinya, amat mudah menghacurkan tentara Tartar dilembah yang sempit itu.

Serangan Ketiga (656 H) dan Kejatuhan Baghdad

Kerajaan Tatar pada masa itu dibagi menjadi tiga wilayah utama. Sebahagian ahli sejarah menamakannya ‘segitiga emas’. Raja Tatar pada masa ini adalah Manku Khan, seorang lagi Raja Tatar yang berjiwa keras dan mempunyai semangat yang kuat. Beliau memerintah ibu negara kerajaan Tatar, Qaraquram dengan dibantu oleh adiknya Ariq Bufa. Seorang lagi adiknya yaitu Qubilai mememerintah jajahan Tatar di sebelah Timur (meliputi China, Korea dan bumi sekitarnya). Sedangkan jajahan Tatar di sebelah Iran dan bumi sekitarnya diserahkan kepada adiknya Hulagu, nama yang tidak asing bagi umat Islam.

Manku Khan ingin meneruskan misi Tatar yang sebelumnya yaitu menjatuhkan kota Baghdad dan menyerang bumi Syam (Palestina, Syria, Jordan dan Lebanon) dan juga Mesir. Tugas ini telah disandarkan kepada Hulagu, pahlawan Tatar yang mabuk darah manusia dan dianggap sebagai jelmaan Genghis Khan. Dr. Raghib Sarjani menganggapnya sebagai manusia paling ganas sepanjang sejarah dunia. Kejahatannya itu makin bertambah setelah beliau kawin dengan Taqazkhatun, permaisuri Mongolia beragama Kristian yang amat membenci umat Islam.

Oleh karena Baghdad adalah ibu negara kerajaan Islam Abbasiah, persiapan yang dilakukan oleh Hulagu dalam serangan ini agak teliti dan hati- hati. Tentera Tatar telah dipecahkan kepada tiga kelompok dan nanti akan datang menyerang dari tiga arah yang berlainan.

a. Pasukan pertama dipimpin oleh Hulagu sendiri. Ia dibantu oleh tentera elit Tatar dibawah pimpinan Bato. Misi pasukan pertama ini adalah mengepung bahagian timur kota Baghdad.

b. Pasukan kedua dipimpin oleh Katabgha (Nestorian Christian Naiman Turk Kitbuqa Noyan.), pahlawan Hulagu yang terbaik keturunan Turki dan beragama Kristen. Tugas pasukan ini adalah mengepung bahagian tenggara kota Baghdad. Katabgha jugalah yang memimpin tentera Tatar melawan Saefuddin Qutuz di dalam peperangan Ain Jalut yang terkenal itu.

c. Pasukan ketiga pula dipimpin oleh Bigo. Pasukan ketiga ini adalah tentera yang menjaga sempadan Anadol/ Anatolia (sekarang di Turki). Tugas pasukan ini adalah untuk mendatangi Baghdad dari arah utara dan seterusnya mengepung bahagian barat kota Baghdad.

Pasukan gabungan dibawah Hulagu ini juga diperkuat  oleh beberapa pasukan Kristen, yang telah berhasil dirayu oleh Hulagu untuk bersama- sama mengalahkan Baghdad,  termasuk pasukan dibawah pimpinan langsung Raja Armenia, kontingen Frank dari Kerajaan Antiokhia, [19] dan kekuatan Georgia yang merasa dendam atas beberapa kekalahan yang mereka derita dari dynasty Abbasiyah sebelumnya. Serta diperkuat oleh 1000 orang ahli- ahli artillery dari China. Seluruh pasukan koalisi ini berkisar 120.000 ~ 140.000 pasukan melawan 50.000 pasukan Abbasiyah yang mempertahankan kota Baghdad.

(Lihat The Fall Of Baghdad. Wikipedia)

Ketelitian perancangan Hulagu bisa dilihat dari beberapa sudut:

a. Pasukan pertama dan kedua yang datang dari jarak 45o kilometer sebelum kota Baghdad dengan cara kamuflase, sehingga Hulagu berjaya mengaburi mata kerajaan Abbasiah sehingga tentera kerajaan Abbasiah hanya dapat mengetahui kedatangan tentera itu ketika mereka tinggal beberapa kilometer dari kota Baghdad (atau karena Baghdad sudah terlalu makmur sehingga meninggalkan kewaspadaan terhadap serangan musuh?)

b. Pasukan ketiga datang dari jarak 1,000 kilometer sebelum kota Baghdad. Tetapi pasukan ini berhasil sampai tepat pada masa yang ditentukan untuk bergabung dengan kedua-dua pasukan yang lain.

c. Pasukan ketiga terpaksa melewati 1,000 km perjalanan di bumi Turki dan Iraq (kedua-duanya adalah bumi Islam). Perjalanan ini akan melewati perkampungan Islam dan kemungkinan terpaksa berhadapan dengan pertempuran awal. Amat menakjubkan apabila mereka berhasil berjalan tanpa disadari oleh orang Islam dan tanpa gangguan kecuali setelah mereka berada pada jarak 50 km dari kota Baghdad di sebelah Barat Daya. Keberhasilan ini setelah mereka sukses menyogok  Gubernur Anadol, yakni Qalaj Arsalan dan Gubernur Mosul, Badruddin Lu’lu’ sehingga kedua-duanya tercatat telah bertindak mengkhianati umat Islam.

Maka terjadilah peperangan. Jatuhlah kota Baghdad dengan segala cerita duka di dalamnya. Menurut Abul Hasan Ali an-Nadwi, umat Islam yang terbunuh di dalam peristiwa kejatuhan Baghdad tersebut adalah 1,800,000 orang. Satu angka yang cukup menakutkan siapapun yang mencoba membayangkannya. Darah mengalir di jalanan. Buku-buku dicampakkan ke dalam sungai Dajlah dan semua itu diperkirakan berjumlah sebanyak dua juta naskhah buku. Ahli sejarah menganggap itu sebagai awal kemunduran umat Islam sesudah itu. Semua itu berlaku dalam masa 40 hari yang penuh kengerian dan bersimbah darah.

Kejatuhan Syam

Kejatuhan Baghdad bukan akhir bagi penderitaan umat pada ketika itu. Sebaliknya umat semakin menderita dengan sikap sebahagian raja dan ulama’ Islam pada masa itu yang sanggup menggadaikan agama semata-mata untuk mendapat jaminan kehidupan dan keamanan dari Tatar.

Siapakah yang tidak sedih bila melihat sebahagian raja Islam menghulurkan tangan persahabatan dengan Hulagu sedangkan darah jutaan umat Islam masih lagi belum kering? Raja Mosul, Badruddin Lu’lu’ menghulurkan tangan persahabatan dengan Hulagu. Begitu juga Kaikawis II dan Qalaj Arsalan, Raja Anadol. Raja Halab dan Damsyik, al-Nasir Yusuf juga mengambil langkah sama. Raja-raja itu telah membuka Iraq Utara, sebahagian Syam dan Turki kepada Tatar tanpa peperangan. Tidak cukup hanya itu, tanggungan umat semakin berat apabila menyaksikan sebahagian ulama’ pada masa itu mengeluarkan fatwa mengharuskan perjanjian damai tersebut dengan hujah-hujah dan dalil- dalil  yang amat mereka selewengkan.

Hanya seorang Raja di daerah tersebut yang mengumumkan jihad. Raja tersebut adalah Al-Kamil Muhammad al-Ayubi, Raja Miyafarqin. Miyafarqin adalah kota yang sekarang ini terletak di timur Turki menuju ke sebelah barat Turki. Tentera Raja Al-Kamil Muhammad al-Ayubi menguasai timur Turki, barat laut Iraq dan timur laut Syria.

Tetapi kegilaan Tatar mengatasi segala-galanya. Bandar Miyafarqin dikepung dan akhirnya jatuh. Begitu juga dengan bandar Halab. Bandar Damsyik juga jatuh. Puncaknya adalah penjajahan Tatar ke atas bumi Palestina.

Mesir, Titik Balik Kemenangan Kaum Muslimin

Ketika Tatar sedang mempersiapkan serangannya ke atas umat Islam, Mesir kala itu berada dalam krisis yang amat runcing. Ia berada di bawah pemerintahan kerajaan Mamalik dan melalui satu pergolakan politik yang amat dahsyat. Kerajaan Mamalik Bahriah (salah satu periode dalam kerajaan Mamalik) memerintah Mesir selama 144 tahun. Dalam tempo tersebut Mesir diperintah oleh 29 orang sultan (berarti tiap sultan memerintah kurang lebih 5 tahun).  Satu jumlah yang banyak untuk pemerintahan selama satu setengan abad. Dari 29 orang sultan tersebut, 10 daripadanya mati dibunuh dan 12 daripadanya digulingkan. Ini jelas menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan dan kekerasan adalah asas perubahan di dalam kerajaan Mamalik.

Setelah fasa Mamalik Bahriah, menyusul pula fasa Mamalik Muizziah. Pemerintah awal di periode  ini adalah Raja Izzuddin Aibak. Beliau berhasil mengembalikan kestabilan politik kepada Mesir. Tetapi kestabilan itu hanya bertahan selama tujuh tahun. Keadaan kembali kucar kacir selepas pembunuhan beliau dan seterusnya pembunuhan isterinya, Syajarah ad-Dur. Setelah bertukar ganti pemerintah, akhirnya Mesir diperintah oleh Sulthan Mudhoffar Saifuddin Qutuz

(ﺴﻴﻑ ﺍﻟﺩﻴﻥ ﻗﻄﺯ), Sang Penakluk Tartar.

Pembunuhan Raja Izzudin Aibak dan isterinya telah membawa kepada perselisihan di antara Mamalik Bahriah (penyokong kerajaan lama) dan Mamalik Muizziah (kerajaan baru yang diperintah oleh Qutuz) dan permusuhan itu masih berterusan di zaman Qutuz. Sebahagian penyokong Mamalik Bahriah mengambil sikap berpindah mengungsi ke bumi Syam dan lain-lain tempat yang dipandang aman. Manakala yang tinggal menetap di Mesir mengambil sikap mengasingkan diri. Ini menjadikan Mesir lemah dari sudut pertahanan karena pasukan tentera Mesir masih tetap loyal dan mendukung kepada Mamalik Bahriah

Di masa yang sama, serangan Tatar ke atas bumi Syam telah memutuskan hubungan Mesir dan Syam. Mesir juga tidak mendapat bantuan dari Sudan dan negara-negara di utara Afrika Islam lainnya karena ngeri melihat pembalasan pasukan Mongol. Ini menjadikan Mesir seolah-olah seorang diri di tengah-tengah krisis yang berlaku di seluruh negara Islam.

Keadaan menjadi semakin buruk apabila Mesir juga pada masa itu ditimpa krisis ekonomi. Berkali- kali perang Salib yang berlaku sebelum itu telah melumpuhkan ekonomi Mesir. Memang sebahagian dari lokasi perang salib adalah di bumi Mesir. Tentera Mesir juga adalah tentera yang paling banyak terlibat di dalam perang salib disbanding dari tempat lain. Ketika itu, Pahlawan Perang Salib yakni Solahudin Ayubi menjadikan Mesir sebagai salah satu benteng pertahanannya.

Disamping sebahagian tentera Salib yang masih ada di bumi Islam, masalah ditambah lagi dengan kedatangan musuh baru Islam yaitu Tatar.

Qutuz, Penyelamat Ummah

Quthbuddin Al Yunaini di dalam Al Bidayah Wan Nihayah(bab 658 H) mengatakan : ” Qutuz(sebelum menjadi raja) pernah bermimpi, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengatakan kepadanya bahwa dia akan menguasai Mesir dan memenangkan Perang melawan Tatar(Mongol)”

Qutuz menaiki tahta Mesir pada 24 Zulqaedah 657 H.

Sebelum beliau menaiki tahta Mesir, Serangan pertama Tatar (617 H), dan  serangan kedua Tatar (628 H) dan disusul kejatuhan Baghdad (656 H) telah pun terjadi dan meninggalkan kesan yang amat parah kepada umat Islam di luar Mesir. Selepas beliau menaiki tahta Mesir pula, Halab jatuh ke tangan Tatar pada Safar 658 H dan Damsyik jatuh pada Rabi’ul Awal 658 H menjadikan keadaan di luar Mesir bertambah gawat. Kejatuhan Palestina secara keseluruhannya juga berlaku pada masa yang hamper bersama-an. Perlu diketahui bahwa Mesir berbatasan dengan Palestina di sebelah timur Mesir pada Kota Gaza.

Demikianlah kita melihat Qutuz terbebani dengan satu masalah yang cukup berat. Sasaran Tatar seterusnya adalah Mesir sedangkan Mesir sebenarnya  tidak bersedia untuk menambah masalah baru disamping masalah-masalah intern dalam negeri yang gawat.

Sikap yang ditunjukkan oleh Qutuz amat membanggakan umat Islam pada ketika itu. Sikap itu terus menerus menjadi puncak kepada kehebatannya pada pandangan mata umat sepanjang zaman. Qutuz mengambil keputusan untuk menghadapi Tatar dan tidak akan lari seperti mana yang dilakukan oleh sebahagian umat Islam. Dia juga mengambil sikap tidak akan menghulurkan perdamaian kepada Tatar sebagai mana yang menjadi pilihan sebahagian Raja-raja Islam ketika itu.

Tiga Langkah Awal

Qutuz mengambil tiga langkah awal sebelum melancarkan peperangan melawan Tatar. Ketiga-tiga langkah ini dilihat amat berkesan dan menjadi sumber kekuatan kepada tentera Islam pada ketika itu.

Langkah pertama yang diambil oleh Qutuz adalah mengembalikan kestabilan keadaan dalam negeri  Mesir. Beliau memanggil golongan istana, pembesar-pembesar, menteri-menteri, ulama’-ulama’ dan golongan berpengaruh di dalam masyarakat. Beliau berkata kepada mereka: “Apa yang aku inginkan dari semua pejabat ini hanyalah agar kita bersatu untuk melawan Tatar. Urusan itu tidak akan mampu diselesaikan tanpa Raja. Apabila kita berhasil keluar dari masalah ini dan mengalahkan Tatar, urusan ini terletak di tangan kamu semua. Pilihlah oleh kalian siapa yang kamu kehendaki untuk menjadi pemerintah.”

Ucapan Qutuz tersebut telah meredakan ketamakan sebahagian dari pembesar yang berniat untuk merampas tahta Mesir dari tangan Qutuz.

Di masa yang sama beliau telah memecat Menteri, Ibnu binti al-A’az dan menggantikannya dengan Zainuddin Ya’kub bin Abd Rafi’. Ini karena beliau lebih meyakini kesetiaan Zainuddin Ya’kub daripada Ibnu binti al-A’az. Kemudian beliau mengekalkan Farisuddin Aqtai as-Soghir sebagai panglima tentera walau pun beliau adalah loyalis Mamalik Bahriah.

Langkah kedua yang telah dilakukan oleh Qutuz adalah memberikan pengampunan kepada semua penyokong Mamalik Bahriah. Perselisihan yang berlaku sebelum ini yang berpuncak dari pembunuhan Raja Izzuddin Aibak ingin segera dihentikan oleh Qutuz dengan cara pemberian amnesty kepada mereka.

Mamalik Bahriah mempunyai pengalaman yang luas di dalam medan peperangan. Di antara kehebatan yang pernah mereka tunjukkan adalah kemenangan mereka di dalam Perang Mansurah (salah satu siri perang Salib) pada tahun 648 H. Pengampunan itu telah berhasil membujuk mereka yang telah keluar meninggalkan Mesir untuk kembali ke Mesir. Rombongan penyokong Mamalik Bahriah kembali berduyun- duyun  ke Mesir dari bumi Syam, Karak (di Jordan sekarang) dan bumi kerajaan Saljuk. Dengan itu Mesir sukses mendapatkan kembali kekuatan tenteranya.

Langkah ketiga yang diambil oleh Qutuz adalah mengusahakan penyatuan semula antara Mesir dan Syam. Seperti yang diceritakan sebelum ini, Raja Damsyik dan Halab (sebahagian dari bumi Syam) iaitu Raja Nasir al-Ayubi telah melakukan perjanjian damai dengan Tatar. Perjanjian itu tidak berhenti sekedar memohon perdamaian, bahkan Raja Nasir al-Ayubi pergi lebih jauh dari itu dengan meminta bantuan Tatar untuk menjatuhkan Mesir. (Hal seperti ini pula yang dilakukan para penguasa Spanyol Islam yang saling menjatuhkan dengan meminta pertolongan pada Raja Kafir untuk menjatuhkan rivalnya sehingga akhirnya Kerajaan Cordoba Islam pecah berkeping- keeping dan musnah dari Spanyol).

Qutuz menulis surat kepada Raja Nasir al-Ayubi memohon penyatuan Mesir dengan Syam. Bahkan beliau menyatakan kesanggupannya untuk duduk di bawah Raja Nasir al-Ayubi. Malangnya surat tersebut tidak dilayani.

Tetapi apabila Damsyik dan Halab ditaklukkan oleh Tatar dan selepas Raja Nasir al-Ayubi lari menyelamatkan diri ke Karak, tentera Syam yang tersisa telah bergerak menuju ke Mesir dan bergabung dengan tentera Mamalik. Kesatuan ini menambahkan lagi kekuatan Mesir dan memberikannya satu semangat yang cukup kuat untuk berhadapan dengan Tatar.

Ketiga-tiga langkah ini telah memberikan Mesir satu kekuatan baru pada awal tahun 658 H. Di sini terlihat  kepada kita kecerdikan dan kesungguhan Qutuz. Ketiga-tiga langkah awal yang mungkin memerlukan masa yang panjang untuk dicapai, telah berhasil diselesaikan oleh Qutuz dalam masa tidak sampai tiga bulan saja dari tarikh beliau menaiki tahta Mesir.

Disimpulkan bahwa keadaan dunia Islam pada awal tahun 658 H adalah:

a. Mesir berhasil mendapatkan kekuatannya kembali dibawah kepemimpina Qutuz

b. Baghdad, Halab dan Damsyik telah  jatuh ke tangan Tatar disamping negara-negara lain yang telah jatuh sebelumya (Daulah al-Khowarizmiah, Daulah Arminiah, Daulah Karjiah)

c. Palestina secara keseluruhannya telah jatuh ke tangan Tatar termasuk Gaza yang terletak hanya 35 kilometer dari perbatasan Mesir

Surat Ancaman Hulagu

Ketika Mesir masih lagi di peringkat awal untuk mempersiapkan dirinya, empat orang wakil Hulagu telah datang memberikan surat perutusan dari beliau. Wakil tersebut datang beberapa hari selepas kejatuhan Halab (Safar 658 H), yaitu hanya tiga bulan selepas Qutuz menaiki tahta Mesir (Zulqaedah 657 H).

Surat tersebut telah melecehkan kekuatan tentera Islam dan memberikan dua kata pilihan kepada Qutuz; menyerah atau berperang. Sebahagian dari pembesar pada masa itu mulai merasa takut dan ingin menarik diri karena persiapan Mesir pada ketika masih lagi tidak seberapa jika dibandingkan dengan Tatar yang menguasai satu kawasan jajahan yang cukup luas (dari Korea ke Polandia hari ini).

Diantara bunyi surat dari Hulagu adalah sebagai berikut:

Dari Raja segala raja dari Timur dan Barat, Khan Agung. Untuk Qutuz Mamluk, yang melarikan diri untuk menghindari pedang kami. Anda harus berpikir tentang apa yang telah terjadi pada negara-negara lain yang telah menyerah kepada kami. Anda telah mendengar bagaimana kita telah menaklukkan sebuah kerajaan yang luas dan telah memurnikan bumi dari gangguan yang (musuh- musuh kami) yang tercemar itu. Kami telah menaklukkan daerah yang luas, membantai semua orang. Anda tidak bisa lepas dari teror tentara kami. Di mana Anda dapat melarikan diri? Apa jalan yang akan Anda gunakan untuk melarikan diri kita? Kuda kami cepat, panah kami tajam, pedang kita seperti petir, hati kita sekeras pegunungan, tentara kita banyak seperti pasir. Benteng tidak akan dapat menahan kami, ataupun  tentara dapat menghentikan kita. Doa Anda kepada Allah akan sia-sia melawan kita. Kami tidak tergerak oleh air mata atau tersentuh oleh ratapan. Hanya mereka yang mohon perlindungan kita akan aman. Percepat balasan Anda sebelum api peperangan menyala. Jika anda melawan anda akan menderita bencana yang paling mengerikan. Kami akan menghancurkan masjid dan mengungkapkan kelemahan Allahmu dan kemudian akan membunuh anak-anakmu dan orang tua Anda bersama-sama. Saat ini Anda adalah satu-satunya musuh terhadap siapa kita harus berbaris. [·  ·  ^ Tschanz, David W.. “Saudi Aramco World : History’s Hinge: ‘Ain Jalut”.)

Qutuz mengumpulkan pembesar-pembesar dan panglima-panglima perangnya lalu berkata kepada mereka:

“Wahai pimpinan muslimin! Kamu diberi gaji dari Baitul Mal sedangkan kamu tidak suka berperang. Aku akan pergi berperang. Sesiapa yang memilih untuk berjihad, temankan aku. Sesiapa yang tidak mahu berjihad, baliklah ke rumahnya. Allah akan memerhatikannya. Dosa kehormatan muslimin yang dizalimi dan diperkosa akan ditanggung oleh orang yang tidak turut berjihad.”

Kata-kata beliau telah menyentak dan menyadarkan kembali pembesar-pembesar Mesir ketika itu. Mereka bukan berhadapan dengan dua pilihan yang diberikan oleh Hulagu, tetapi mereka berhadapan dengan pilihan yang diberikan oleh Allah terhadap mereka. Jihad pada ketika itu adalah fardhu dan mereka tidak ada pilihan selain dari itu.

Setelah berunding dengan semua pembesar, akhirnya mereka memutuskan untuk membunuh keempat-empat utusan tersebut. Kepala mereka telah digantung di tengah kota Kairo di gerbang Zuwaila.

Perbuatan ini yang bertujuan untuk menegaskan keberanian tentera Islam untuk berhadapan dengan Tatar telah mendapat kritikan sebahagian dari pengkaji sejarah. Mereka berpendapat bahwa tidak terdapat sebab yang kuat untuk Qutuz membunuh kesemua utusan tersebut karena Islam adalah agama yang tidak membenarkan utusan perang dibunuh.Walau pun begitu ada juga yang mengandaikan kemungkinan berlaku beberapa peristiwa yang membawa kepada pembunuhan tersebut tetapi tidak diketahui dan tidak tercatat dalam sejarah. Misalnya karena para utusan itu telah bertindak kurang ajar dengan menghina Sulthan, Wallahu a’lam.

Masalah Belanja Perang dan Fatwa al-Izz bin Abdis Salam

Selesai dari masalah surat Hulagu, Qutuz berhadapan dengan satu masalah lain yaitu nagaimana mencari sumber keuangan untuk mempersiapkan Mesir menghadapi peperangan. Diperlukan dana yang besar untuk memperbaiki benteng, jambatan, membeli senjata dan peralatan perang serta bekalan makanan yang mencukupi untuk tentera dan rakyat jika Mesir dikepung oleh Tatar. Dalam keadaan Mesir yang dilanda dengan krisis politk dan ekonomi ketika itu, Qutuz tidak mempunyai masa yang banyak untuk menyelesaikan masalah itu setelah surat ancaman Hulagu sampai kepadanya memberikan isyarat bahwa serangan Tatar akan dating sewaktu- waktu, dan pasukan  Tatar sudah berada di perbatasan Mesir.

Qutuz memanggil para pembesar negara lalu melakukan musyawarah. Pilihan yang ada pada mereka adalah untuk mengutip duit dari semua potensi termasuk dari rakyat jelata. Ini perlu dilakukan segera. Mereka tidak ada pilihan selain dari itu. Tetapi pilihan ini memerlukan satu fatwa yang  dikeluarkan oleh ulama’ Islam karena umat tidak pernah mengenal adanya cukai  atau pajak lain selain dari zakat. Tanpa fatwa tersebut, Qutuz tidak akan melakukannya karena jika ia menyelesaikan masalah dengan jalan yang tidak syar’ie hanya akan menjebak Mesir ke dalam masalah lain yang mungkin lebih besar. Syariat adalah dasar bagi segala-galanya.

Di antara yang dipanggil untuk turut serta di dalam musyawarah tersebut adalah seorang ulama’ bernama al-Izz bin Abdis Salam (lebih dikenali sebagai Izzuddin Abdis Salam). Beliau lahir pada tahun 577 H. Ketika musyawarah tersebut umurnya sudah mencapai 81 tahun. Ibnu Daqiq al-Ied menggelarinya sebagai ‘Sultan nya semua ulama’. Gelar ini diberikan karena sifat beliau yang amat tegas di dalam menasihati para pemerintah dan panglima perang ketika perang Salib sedang seru serunya. Beliau bukan saja memberikan fatwa di dalam masalah ibadah tetapi juga turut campur tangan di dalam memberikan fatwa di dalam masalah politik dan peperangan.

Beliau pernah dipenjarakan di Damsyik dan di Quds kerana kelantangan fatwanya terhadap pemimpin Islam yang mengkhianati umat Islam dan melakukan persepakatan dan berkolaborasi dengan tentera Salib. Setelah dibebaskan oleh Raja Soleh Najmuddin Ayub, raja Mesir ketika itu, beliau berpindah ke Mesir dan menjadi Mufti Mesir setelah sebelum ini menjadi Mufti di Palestina dan Syam.

Ketika Qutuz merencanakan agar dilakukan pungutan dari rakyat jelata, Izzuddin Abdis Salam mengeluarkan satu fatwa yang cukup tegas. Beliau berkata:

“Apabila negara Islam diserang, wajib atas dunia Islam untuk memerangi musuh. Harus diambil dari rakyat jelata harta mereka untuk membantu peperangan dengan syarat tidak ada harta langsung di dalam Baitul Mal. Setiap kamu (pihak pemerintah) pula hendaklah menjual semua yang kamu miliki dan tinggalkan untuk diri kamu hanya kuda dan senjata. Kamu dan rakyat jelata adalah sama dan setara di dalam masalah ini. Ada pun mengambil harta rakyat sedangkan pimpinan tentera memiliki harta dan peralatan mewah, maka itu tidak boleh terjadi.”

Fatwa yang cukup tegas ini disambut juga dengan ketegasan oleh Qutuz. Beliau memerintahkan semua pembesar negara dan pimpinan perang agar menyerahkan semua yang mereka miliki kepada negara. Hasil yang menakjubkan; Mesir adalah negara yang kaya. Tetapi  ketika itu kekayaan tersebut telah disalahgunakan oleh sebahagian pimpinan pada masa itu. Penyerahan harta dari pembesar negara telah disambut oleh rakyat jelata. Mereka mulai menyumbangkan harta masing-masing untuk memenuhi tuntutan dana perang. Semua turut serta di dalam memberikan sumbangan. Fatwa Izzudin bin Abdis Salam benar-benar dapat menyelesaikan masalah tersebut dalam waktu singkat.

Kejutan Dari Qutuz; Memerangi Tatar Diluar Mesir, Bukan Bertahan di Mesir

Mesir sudah siap untuk menghadapi Tatar. Segala sunnah dan asbab telah diambil oleh Qutuz. Qutuz berhasil menaikkan semangat rakyat Mesir. Qutuz berhasil memadamkan perselisihan di antara pembesar Islam. Qutuz berhasil mendamaikan antara Mamalik Bahriah dan Mamalik Muizziah. Qutuz berhasil menyatukan antara Mesir dan Syam, dua wilayah Islam yang kuat. Qutuz berhasil memperkecilkan Tatar pada pandangan umat Islam. Qutuz berhasil membersihkan jiwa pembesar dan rakyat. Qutuz berhasil membersihkan uang-uang haram dan melancarkan jihad dengan menggunakan uang yang halal…. Subhanalloh!

Dengan kekuatan tersebut Qutuz memilih untuk melakukan tindakan yang cukup berisiko. Beliau telah mengumumkan pandangannya di dalam musyawarah dengan pimpinan tentera untuk mereka keluar menyerang Tatar di bumi Palestina dan mengubahnya dari rancangan awal yaitu menunggu serangan Tatar di Mesir. Pandangan ini amat mengejutkan pimpinan tentera,  sehinggakan sebahagian dari mereka bangun terkejut setelah mendengar pandangan tersebut. Berlakulah perbincangan dan Qutuz menerangkan kepada mereka rahasia pilihannya itu.

Qutuz menegaskan beberapa noktah yang kemungkinan tidak disedari oleh sebahagian pimpinan tentera akibat terlalu lama berada dalam krisis politik.

a. Keselamatan Mesir bukan terletak di Kairo tetapi sebaliknya bermula dari perbatasan Mesir di sebelah timur. Dengan itu usaha untuk menyelamatkan sempadan Mesir – Palestin mesti dilakukan dari peringkat awal dengan cara menyerang Tatar di Palestina

b. Berperang di luar Mesir memberikan Mesir kelebihan; iaitu mereka masih lagi ada peluang kembali ke Mesir untuk menyusun semula strategi. Tetapi jika mereka kalah di dalam bumi Mesir, mereka tidak mempunyai peluang tersebut. Sebaliknya Tatar dengan mudah dapat terus menerobos ke Kairo, ibu negara Mesir. Strategi inilah yang dipakai Nabi ketika perang Uhud.

c. Tentera Islam mesti melakukan kejutan ke atas musuh dengan cara mereka yang menentukan tempat dan masa untuk berperang (menentukan inisiatif peperangan). Dengan itu mereka berada dalam keadaan cukup bersedia untuk berperang dalam keadaan musuh tidak bersedia sepenuhnya.

d. Mesir bertanggungjawab bukan saja ke atas keselamatan Mesir tetapi juga ke atas keselamatan bumi-bumi Islam yang lain. Jihad mempertahankan negara Islam yang dijajah adalah fardhu ke atas negara jiran jika negara yang dijajah itu tidak mampu mempertahankan dirinya.

e. Umat Islam mempunyai kewajiban untuk menyerang dan mengalahkan negara Tatar lalu menawarkan kepada mereka pajak Islam atau jizyah. Apatah lagi jika sekiranya tentera Tatar berada di bumi Islam, kewajipan untuk membebaskan yang dijajah oleh Tatar tersebut lebih wajib lagi disbanding  menyerang negara Tatar ditanah mereka sendiri.

Setelah perbincangan yang panjang, akhirnya keputusan diambil bersama. Tentera Islam akan bergerak menuju ke bumi Palestin dan menyerang Tatar di situ.

Perjanjian Damai Islam – Salib di Akka

Untuk sampai ke tempat yang sesuai dijadikan medan perang di Palestina, tentera Islam terpaksa melalui bandar Akka. Kota Akka pada ketika itu masih berada di bawah jajahan tentara Salib sejak tahun 492 H. Mereka telah berada di Akka selama 166 tahun. Disana terdapat generasi tentera Salib tersebut.

Ketika itu tentera Salib berada dalam keadaan yang cukup lemah di Akka. Kelemahan ini hasil dari keletihan peperangan yang mereka terpaksa hadapi dari tentera Solahudin Al- Ayyubi sebelum ini. Pembebasan Quds terjadi pada tahun 643 H. Peperangan Mansurah terjadi pada tahun 648 H. Selepas peperangan tersebut, banyak tentera Salib yang dijadikan tawanan termasuk King Louis IX, Raja Perancis.

Walau pun begitu, untuk membebaskan Akka dari tentara Salib tidaklah semudah yang disangkakan. Benteng terkuat tentera Salib adalah di Akka. Banyak percobaan termasuk percobaan oleh Solahudin al-Ayyubi untuk membebaskan Akka ternyata menemui kegagalan sebelum ini. Masa itu dimana tentara Tatar suda ada di Palestina, ada kemungkinan bisa terjadi  persepakatan di antara tentera Tatar dan tentera Salib yang tentu hal ini akan menguatkan kembali Akka.

Langkah yang diambil oleh Qutuz adalah melakukan perjanjian damai sementara dengan pemerintah Salib di Akka. Perjanjian damai ini akan berakhir apabila peperangan menentang Tatar selesai. Langkah ini diambil oleh Qutuz di atas beberapa pertimbangan:

a. Memerangi tentera Salib dan tentera Tatar serentak akan menghilangkan tumpuan tentera Islam dan melemahkan mereka.

b. Tatar adalah masalah utama ketika itu

Qutuz menghantar utusannya untuk menawarkan perjanjian damai. Beberapa syarat diberikan oleh Qutuz kepada tentera Salib yang menunjukkan bahwa Islam sebenarnya berada di posisi kuat ketika melakukan perjanjian dan bukan di posisi lemah. Ia tidak boleh disamakan dengan perjanjian yang berlaku sekarang ini  di antara sebahagian pihak yang mewakili Palestina sekarang (Fatah) dengan Yahudi penjajah.

Wakil Qutuz menawarkan kepada penduduk Akka keamanan. Mereka juga menawarkan akan menjual kuda-kuda tentera Tatar dengan harga yang murah kepada penduduk Akka jika mereka berhasil menjatuhkan Tatar. Tawaran ini amat menarik bagi penduduk Akka yang memang kekurangan kuda. Kuda-kuda Tatar terkenal di zaman itu sebagai kuda yang kuat dan cepat.

Tetapi di masa yang sama, wakil mengenakan syarat bahawa Akka perlu memberikan bantuan makanan dan apa-apa yang diperlukan oleh tentera Islam sepanjang mereka berada di Palestina. Wail juga memberikan pernyataan keras kepada tentera Salib di Akka bahwa jika terjadi sebarang pengkhianatan di pihak tentera Salib, tentera Islam akan meninggalkan peperangan melawan Tatar dan menumpukan sepenuh tenaga mereka kepada tentera Salib sehingga Akka berhasil dibebaskan.

Di pihak tentera Salib, mereka sebenarnya tidak mempunyai pilihan yang lebih baik dari menerima tawaran tersebut. Menolak tawaran perjanjian damai akan menaikkan kemarahan tentera Islam dan kemungkinan akan membawa kepada kejatuhan Akka. Dengan itu Akka dengan segera menerima perjanjian damai sementara itu.

Kini, jalan bagi  dan tentera Islam ke Palestin untuk berhadapan dengan Tatar kini terbuka.

Pembersihan dan Penyaringan Pasukan Muslimin

Kini peperangan benar-benar berada di ambang mata. Ia benar-benar akan berlaku. Kejutan berlaku kepada sebahagian tentera yang pada awalnya menyangka bahawa usaha tersebut hanyalah kampanye untuk  menaikkan semangat belaka, bukan sungguh akan perang. Ketakutan menyelubungi mereka karena Tatar adalah kekuatan gila yang tidak pernah dikalahkan. Tentera Salib tidak segila itu. Bahkan pada zaman itu tersebar dari mulut ke mulut satu mitos yang diterima oleh semua orang pada masa itu, yakni:  ‘jika kamu mendengar Tatar dikalahkan, jangan percaya’.

Sebagian kaum muslimin pun mulai ada yang lari meninggalkan tentera Islam sebagaimana kisah persiapan Nabi dalam menghadapi kekuatan Super Power Romawi pada perang Tabuk.. Sebahagiannya lari ke bumi Hijaz. Ada yang lari ke Yaman. Ada juga yang lari jauh sehingga ke Morocco. Hasilnya justru menguntungkan karena kini tentera Islam benar-benar bersih dari jiwa-jiwa yang kotor dan pengecut. Yang turut berperang adalah mereka yang benar-benar jelas leyakinannya, kuat dan berani menanggung segala risiko. Mereka bersedia dan siap untuk syahid di jalan Allah.

Barisan muslimin kini berada di puncak persiapan. Segala-galanya telah disiapkan oleh Qutuz, Raja yang menyerahkan kehidupannya untuk agama Allah. Usaha yang bermula dari Zulkaedah 657 H sehingga ke Sya’ban 658 H itu (tidak sampai 10 bulan) telah benar-benar membuahkan hasilnya.

Kini tentera Islam sudah benar-benar siap sedia untuk bertempur menghadapi Tatar.

Sya’ban 658 H:

Pasukan Bergerak ke Palestina Untuk Menumbangkan Tatar

Pergerakan tentara Islam bermula pada bulan Sya’ban 658 H. Ia bertepatan dengan  bulan Juli 1260 M. Bulan Juli adalah musim panas. Melewatii padang pasir di dalam musim panas bukanlah suatu yang mudah. Ditambah pula mereka akan menghampiri bulan Ramadhan. Tetapi Qutuz tidak menangguhkan langsung operasi tersebut dia ingin mengambil inisiatip dalam perang dan cukup untuk memahami medan, karena barang siapa yang lebih memahami medan, maka ia memiliki keunggulan dimedan itu.

Tentara Islam dilatih di Kairo, Asyut, Iskandariah dan Dimyath. Daripada Camp- camp latihan tersebut mereka berkumpul di Solehiah yang terletak di Syarqiah, Mesir sekarang ini. Dari situ mereka bergerak ke sebelah timur dan kemudian naik ke utara menuju ke Arisyh. Itulah kota pertama mereka berteduh setelah melintasi padang pasir dari Solehiah. Dari Arisyh mereka menuju ke Gaza yang kala itu berada di bawah penguasaan Tatar.

Qutuz telah membagi tenteranya kepada dua Kelompok/ Divisi/ Batalyon. Kelompok pertama agak kecil jika dibandingkan dengan kelompok kedua. Kelompok  pertama ini diketuai oleh panglima Islam yang hebat, Ruknuddin Baibras. Kelompok ini berjalan terpisah agak jauh dari kelompok kedua. Kelompok batalyon pertama ini sengaja berjalan menampakkan dirinya manakala batalyon kedua berjalan dengan perlahan dan menyembunyikan diri dengan kamuflase agar tidak diketahui keberadaannya.. Ini adalah antara taktik perang yang dilakukan oleh Qutuz untuk mengelabui mata musuh agar musuh silap di dalam menghitung kekuatan tentera Islam.

Kemenangan di Gaza

Pada 26 Julai 1260 M, Baibras sudah berjaya melewati perbatasan Mesir – Palestina. Dia berhasil melewatii Rafah, Khan Yunus dan Dir Balah. Kini dia berada sangat dekat dengan kota Gaza.

Para spion Tatar rupanya  berhasil mengendus kedatangan tentera Baibras. Namun ada yang salah, mereka menyangka bahawa pasukan itu adalah keseluruhan tentera Islam tanpa mengetahui tentang adanya pasukan kedua tentara Islam yang berada jauh dari Gaza. Berita tersebut sampai kepada tentara Tatar. Ketika itu tentera utama Tatar di bawah pimpinan Katabgha masih lagi jauh dari Gaza. Mereka berada di bumi Lebanon, masih 300 kilometer dari Gaza. Dengan itu mereka mengirimkan satu pasukan yang tidak begitu besar untuk menghadapi tentera Islam.

Kemudian terjadilah pertempuran dikedua belah pihak. Pertama kali setelah puluhan tahun, tentera Islam dalam kesempatan ini memperoleh kemenangan di dalam pertempuran melawan Tatar. Dalam peperangan tersebut sebahagian besar  tentera Tatar terbunuh. Tentera yang selamat melarikan diri menyampaikan berita tersebut kepada Katabgha.

Marah bercampur terkejut. Itulah reaksi Katabgha dan tentera Tatar ketika mendengar berita kekalahan mereka. Sebelum ini mereka sudah terbiasa membunuh orang Islam tanpa mendapat tentangan sengit. Mereka juga sudah terbiasa dengan beberapa Raja Islam yang menghinakan diri memohon perdamaian dari mereka. Di luar persangkaan mereka, masih ada lagi tentara Islam yang berani melawan mereka dan mampu mengalahkan mereka. Ini adalah pengalaman baru bagi Tatar.

Bagi  tentara Islam, kemenangan itu menaikkan semangat mereka untuk terus berjihad. Mereka tidak lagi menundukkan . Sebaliknya mereka kini berani menengadahkan kepala untu terus maju kedepan dan telah tiba saatnya untuk menghancurkan Tatar.

Peperangan: Ain Jalut (The Spring Of Goliath), titik balik kemenangan kaum muslimin.

 

Satu peristiwa penting yang terjadi di dalam bulan Ramadhan adalah peristiwa peperangan Ain Jalut. Peristiwa ini terjadi pada 25 Ramadhan tahun 658 H di Ain Jalut dan Bisan, Palestina. Medan pertempuran tersebut terletak tidak jauh dari Kota Yerussalem: al-Quds.

Ia adalah satu peperangan yang berhasil menebus kembali martabat  umat Islam setelah dikalahkan oleh tentera Tatar di dalam peristiwa beberapa kali seri  serangan pasukan Tatar ke atas daerah- daerah kekuasaan Islam. Panglima yang berjaya mengembalikan kemuliaan umat ini adalah Saifudin Qutuz, salah seorang panglima Islam yang hebat. Kehebatan Qutuz dan seberapa pentingnya  peperangan Ain Jalut hanya akan dapat dirasakan jika kita dapat menyelami penderitaan umat hasil dari serangan pasukan Tatar ke atas umat Islam.

Ketika itu dibawah Qutuz Tentara Islam terus bergerak dari Gaza melepasi Asqalan dan Yafa. Dari situ mereka singgah sebentar di Akka dan berjumpa dengan pimpinan tentera Salib di Akka untuk memastikan perjanjian masih lagi dipatuhi oleh mereka.

Seterusnya Qutuz dan tentera Islam bergerak meninggalkan Akka menuju ke Ain Jalut.

Di manakah Ain Jalut?

 

Ain Jalut terletak tidak jauh dari perkemahan Janin sekarang ini. Ia terletak di antara Kota Bisan dan Nablus. Ia terletak 65 kilometer dari Hittin, medan peperangan Hittin yang terjadi dahulu pada tahun 583 H dizaman Sahabat Nabi. Ia terletak 6o kilometer dari Yarmuk, medan peperangan Yarmuk yang terjadi enam abad sebelumnya. Kedudukannya banyak mengembalikan memori tentera Islam kepada kemenangan tentera Islam sebelum itu dibawah pimpina Panglima Perang Kholid bin Walid.

Ia dipilih karena ia adalah kawasan tanah lapang yang luas dan dikelilingi oleh bukit kecuali di bahagian utaranya. Bukit-bukit tersebut dipenuhi pokok-pokok kayu besar yang memudahkan tentera Islam untuk bersembunyi. Satu pasukan kecil di bawah pimpinan Baibras diletakkan di bahagian utara sementara tentera yang lain bersembunyi di balik pokok pepohonan.

Kini semua pasukan kaum muslimin telah berada dalam keadaan siap sedia menanti kedatangan Katabgha dan tentera Tatar.

Suasana Sehari Sebelum Perang: 24 Ramadhan 658 H

Ketika Qutuz dan tentera Islam sudah pun berada di bumi Ain Jalut, datang sejumlah sukarelawan dari Palestina. Sebelum ini mereka menyembunyikan diri dari medan peperangan. Kesungguhan Qutuz dan qudwah/ keteladanan yang ditunjukkan oleh beliau telah menghilangkan ketakutan mereka. Itulah pentingnya adanya seorang pemimpin teladan dalam setiap keadaan.

Sebelumnya, medan Ain Jalut juga mulai dipenuhi dengan petani-petani, kanak-kanak dan wanita. Sebahagiannya ada yang telah tua dan uzur. Kesemuanya kemudian keluar untuk memberikan bantuan dalam bentuk yang mereka mampu. Qutuz benar-benar berhasil menarik simpati rakyat dan sanggup  menggerakkan umat Islam kembali ke medan jihad yang sudah lama ditinggalkan ketika pintu- pintu kemakmuran telah dibukakan Allah.

Di hari yang sama, datang seorang utusan kepada tentera Islam dan memohon untuk bertemu dengan Qutuz. Dia memperkenalkan dirinya sebagai wakil Sorimuddin Aibak, seorang muslim yang dijadikan tawanan Tatar dan dipaksa berkhidmat untuk tentera Tatar. Wakil tersebut berkata bahawa dia membawa beberapa pesan rahasia dari Sorimuddin Aibak untuk disampaikan kepada Qutuz.

Pesan rahasia tersebut berisi beberapa maklumat penting untuk tentera Islam:

a. Tentera Tatar tidak lagi sekuat sebelum ini. Hulagu telah membawa sebahagian tentera dan panglima perangnya ke Tibriz, Iran. Kekuatan mereka tidak lagi sekuat ketika mereka menaklukkan Syam.

b. Bahagian kanan tentara Tatar lebih kuat dari bahagian kiri mereka dan terdiri dari pasukan elit Tartar yang memiliki keahlian khusus dalam berperang. Dengan itu tentera Islam hendaklah menguatkan bahagian kiri mereka untuk menghadapi bahagian kanan tersebut.

c. Asyraf al-Ayubi, Raja Hims yang sekarang ini bersama tentera Tatar ingin kembali ke pangkuan tentera Islam. Mereka akan melakukan tipu helah agar tentera Tatar yang bersama mereka dapat dikalahkan.

Maklumat ini diterima oleh Qutuz dengan penuh hati-hati, bimbang jika sekiranya ia adalah merupakan sebahagian dari taktik dan tipu daya Tatar.

Semua ini berlaku pada siang 24 Ramadhan 658 H di Ain Jalut.

Pada malamnya Qutuz dan tentera Islam melakukan tahajud dan memohon dari Allah kemenangan tentara Islam dalam pertempuran esok hari. Malam itu adalah malam 25 Ramadhan658 H dan kemungkinan ia adalah malam Lailatul Qadar. Mereka menghabiskan malam mereka dengan tahajud dan doa serta menyerahkan diri kepada Allah. Moga-moga Allah menerima mereka sebagai hambaNya dan memberikan kemuliaan kemenangan atau syahid di medan pertempuran esok hari.

Moga-moga esok adalah hari di mana mereka boleh menebus semula kematian jutaan umat Islam di tangan Tatar.

25 Ramadhan 658 H Bertepatan dengan 3 – September- 1260

Fajar menyingsing tiba. Hari yang dinantikan oleh tentera Islam dan muslimin yang bersama dengan mereka sudah menjelma. Hari itu adalah hari Jum’at 25 Ramadhan 658 H.

Tentera Tatar di bawah pimpinan Katabgha (Nestorian Christian Naiman Turk Kitbuqa Noyan. ) tiba dari arah utara. Tentera Islam bersembunyi di sebalik pokok-pokok pohon. Pasukan kecil di bawah Baibras yang pada asalnya berjaga di sebelah utara dan sengaja menampakkan diri juga menyembunyikan diri mereka ketika tentara Tatar tiba untuk melakukan serangan dadakan.

Qutuz memberikan arahan agar tentera Islam keluar menampakrkan diri secara susul menyusul, satu regu demi satu regu.

Ketika regu/ kesatuan  pertama turun dari bukit dan menghampiri tentera Tatar, Katabgha dan tentara Tatar menjerit ketakutan. Pasukan ini turun dengan memakai pakaian berbelang putih dan merah. Keseluruhan peralatan senjata mereka dihias cantik. Mereka turun dalam keadaan tersusun. Pergerakan mereka sama dan seimbang serta kompak hasil dari latihan yang memadai.

Katabgha bertanya kepada Sorimuddin Aibak: “Pasukan apakah ini?” Sorimuddin menjawab: “Inilah Regu Sanqar ar-Rumi.”

Kemudian turun pula regu kedua. Regu ini memakai pakaian berwarna kuning dan membawa senjata yang berhias indah. Mereka juga turun dalam keadaan tersusun, pergerakan yang sama dan seimbang.

Katabgha bertanya kepada Sorimuddin Aibak: “Pasukan apakah ini?” Sorimuddin menjawab: “Inilah Regu Balban ar-Rasyidi.”

Kemudian turun pula regu- regu dan kesatuan  berikutnya dengan memakai pakaian berwarna lain. Setiap kali satu regu baru turun, Katabagha akan bertanya kepada Sorimuddin: “Pasukan apakah ini?” Sorimuddin yang tidak mengetahui keseluruhan nama-nama kesatuan regu Mamalik mulai mereka-reka nama tertentu untuk menambahkan ketakutan Katabgha.

Tentera Mamalik terpecah kepada banyak kesatuan. Setiap kesatuan memakai warna tertentu yang membedakannya dengan kesatuan lain. Kuda mereka juga dihias dengan warna yang sama. Begitu juga dengan senjata mereka , kemah dan bahkan rumah-rumah dinas mereka di Mesir. Semuanya dibedakan warnanya dengan warna kesatuan masing-masing.

Semua kesatuan ini adalah sebahagian tentera Islam yang dipimpin oleh Baibras. Belum termasuk tentara yang masih menyembunyikan diri bersama Qutuz.

Genderang perang  dan tambur  mulai ditabuh oleh pasukan genderang tentera Islam. Sudah menjadi kebiasaan tentera Mamalik, mereka akan meletakkan satu pasukan genderang di medan perang. Mereka memainkan rentak yang akan memberikan isyarat tertentu kepada tentera Mamalik.Isyarat tersebut hanya mampu difahami oleh tentera Mamalik. Setiap pergerakan tentara akan ditentukan oleh gendering komando tersebut.

Pasukan Baibras sudah berada hampir dengan tentera Katabgha. Peperangan sudah semakin dekat.

Keadaan Medan Perang Pada Serangan Pertama.

Pertempuran pun segera dimulai. Katabgha yang menyangka bahawa pasukan Baibras yang kecil itu adalah keseluruhan tentera Islam telah mengarahkan keseluruhan tenteranya untuk masuk ke medan pertempuran. Mereka menyerbu masuk dengan jerit pekik yang kuat.

Baibras dan tenteranya berdiri tenang di tempat masing-masing menantikan kedatangan tentara Tatar yang berjumlah berlipat ganda dari bilangan pasukan mereka. Apabila tentera Tatar sudah hampir kepada mereka, Baibras memberikan isyarat kepada tenteranya untuk menyerbu ke depan.

Pedang bertemu pedang, genderang dipalu bertambah kuat berselang seling memberikan komando dan arahan dengan takbir dari petani-petani yang berada di atas bukit. Darah mulai mengalir. Satu demi satu nyawa melayang. Walau pun begitu, Baibras dengan bilangan tentera yang sedikit mampu bertahan sehingga ke saat itu. Ketakutan mula meresap masuk ke dalam diri tentera Tatar. Belum pernah mereka menghadapi kekuatan sedemikian.

Pemilihan Qutuz kepada Baibars memangnya tepat. Panglima-panglima perang yang dipilih untuk bertempur di peringkat awal dengan Tatar dan menghabiskan tenaga Tatar adalah panglima perang Mamalik terbaik. Mereka adalah panglima yang pernah terlibat  di dalam mengukir kemenangan di dalam peperangan Mansurah menentang tentera Salib pimpinan Louis IX. Mereka memiliki kemahiran perang yang tinggi dalam olah tempur.

Qutuz dan Pasukan utamanya masih lagi menanti di sebalik tempat persembunyian mereka menyaksikan peperangan tersebut dan menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke serangan kedua.

Serangan Kedua: Mengepung Tentara Tatar

Setelah beberapa saat berjalan, masanya sudah tiba untuk Qutuz memberikan komando dan arahan baru. Arahan seterusnya adalah agar Baibras dan tenteranya berundur secara teratur dan berpura-pura lemah. Taktik ini adalah taktik yang sama digunakan oleh tentera Islam di dalam peperangan Nahawand ketika tentera Islam di zaman Saidina Omar r.a. mengalahkan tentara Parsi. Taktik ini digunakan untuk menarik tenaera Tatar yang sudah keletihan masuk ke tengah-tengah medan peperangan dan mengepung mereka di situ. Sebagaimana yang kita ketahui medan Ain Jalut berbukit di seluruh kawasannya kecuali di bahagian utara. Kepungan itu agak mudah untuk dilakukan jika sekiranya Baibras berhasil menarik tentera Tatar ke tengah medan.

Ia bukanlah taktik yang mudah. Ia memerlukan satu perkiraan yang tepat. Terlalu cepat akan menyebabkan musuh menyadari taktik tersebut. Terlalu lambat akan menyebabkan kematian tentera Islam saat menarik mundur.

Qutuz memberikan komando kepada pasukan genderang untuk memberikan perintah baru ini. Baibras memahami rentak genderang tersebut. Tanpa menunggu waktu dia dan tentaranya mulai mundur ke belakang sedikit demi sedikit dengan penuh hati-hati. Mereka berpura-pura menampakkan keletihan dan kelemahan mereka.

Katabgha  yang berkali- kali memenangkan perang itu kali ini tertipu. Dia mengarahkan seluruh tenteranya untuk masuk ke dalam medan perang tanpa menyadari taktik tersebut. Ini adalah satu yang cukup mengherankan berlaku kepada beliau. Katabgha adalah panglima perang Tatar yang mahir. Menjadi panglima perang sejak zaman Genghis Khan. Ketika peperangan Ain Jalut, beliau berusia lebih 60 tahun atau mungkin lebih 70 tahun. Satu usia yang memberikan pengalaman yang tidak sedikit berkenaan taktik-taktik perang di zaman itu. Tetapi Allah rupanya mengatur segala-galanya.

Taktik ini berhasil. Tentara Tatar telah berada dalam kepungan. Pada ketika Pasukan Utama tentera Islam muncul, Katabgha baru menyadari kesilapannya. Di sini tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali terus berperang mati-matian. Mereka sudah melihat bahwa kematian semakin menghampiri mereka.

Serangan Ketiga: Kekuatan Bahagian Kanan Tatar

Katabgha memberikan komando agar semua tenteranya berjuang mati-matian. Mereka seolah-olah mengamuk dan menggasak tentera Islam. Di sini terbukti kebenaran apa yang dikatakan oleh wakil Sorimuddin Aibak berkenaan kekuatan bahagian kanan tentera Tatar. Bahagian kiri tentera Islam telah dilabrak dengan dahsyat oleh mereka. Berguguranlah tentera Islam seorang demi seorang sebagai syahid. Allohu Akbar!

Qutuz yang melihat dari atas bukit merasakan kesukaran yang dihadapi oleh tentera Islam. Langkah yang diambil oleh beliau amat menakjubkan. Beliau mencampakkan topi besinya lalu memekikkan kalimat: ‘wa Islaaamah’. Raungan dahsyat ini diucapkan oleh beliau sambil beliau turun ke medan perang dengan menunggang kudanya. Langkah ini diambil oleh Qutuz untuk menaikkan semangat tentera Islam. Dan ini adalah tindakan yang penuh resiko tapi penuh perhitungan. Karena jika ia terbunuh dengan tindakan ini, kaum muslimin pasti kehilangan komando dan akan sangat mudah dikalahkan oleh kepintaran Katabgha.

Tentara Tatar terperanjat dengan kehadiran Qutuz di tengah-tengah medan perang. Qutuz memerangi mereka dengan penuh semangat seolah-olah beliau tidak langsung sayangkan nyawanya. Beberapa libasan pedang dan tombak hampir mengenai beliau. Kudanya berhasil ditikam mati oleh tentera Tatar sehingga menyebabkan beliau terjatuh. Walau demikianbeliau meneruskan jihadnya dengan berjalan kaki sehinggalah beliau berhasil mendapatkan kuda bantuan.

Seorang pembesar istana menjerit dan mencelanya karena lambat menaiki kuda. Beliau khawatir  Qutuz terbunuh lalu dengan itu akan kalahlah tentera Islam. Tetapi Qutuz menjawab: “Ada pun diriku, sesungguhnya ia sedang menuju surga. Ada pun Islam, ia mempunyai Tuhan yang tidak akan membiarkannya.”

Tentara Islam bertambah semangat dengan turunnya Qutuz ke medan perang.

Kematian Katabgha

Dalam peperangan yang berkecamuk itu akhirnya Katbgha terbunuh. Ia dibunuh oleh Jamaludin Aqusy as-Syams. Beliau adalah salah seorang panglima perang Mamalik. Pernah berada di bawah Raja Nasir al-Ayyubi. Kemudian beliau meninggalkannya setelah melihat pengkhianatan yang dilakukan oleh Raja Nasir al-Ayyubi.

Beliau menyerbu tentara Tatar sehingga berhasil masuk ke tengah-tengah tentara tersebut. Di situ beliau melihat Katabgha. Jamaluddin tidak menunggu lama. Beliau mengumpulkan seluruh tenaganya dan menebaskan pedangnya ke arah leher Katabgha. Kepala Katabgha berpisah dari badan dan tercampak ke tengah medan perang di hadapan tentera Tatar.

Ketakutan makin meningkat melihat kematian Katabgha di hadapan mata mereka. Tentera Tatar mulai melarikan diri melalui bahagian utara Ain Jalut. Tentera Islam pun terus mengejar mereka dan tak membiarkannya lolos.

Pertempuran Akhir di Bisan dan Berakhirnya Kekuatan Tatar

Tentara Tatar berhasil memecahkan kepungan tentera Islam di Ain Jalut. Mereka melarikan diri sejauh 20 kilometer dan berhenti di Bisan. Tentera Islam terus mengejar mereka.

Disana terjadi pertempuran yang lebih sengit. Kali ini tentera Tatar benar-benar menggila untuk memastikan mereka terus hidup. Qutuz berada di tengah-tengah medan peperangan memberikan semangat kepada tentera Islam. Beliau memekikkan: “Wa Islaamah. Wa Islaamah. Wa Islaamah. Ya Allah bantulah hambamu, Qutuz untuk menghancurkan Tatar.”

Akhirnya kemenangan berpihak kepada tentara Islam. Mereka berhasil menamatkan mitos bahwa Tatar tidak akan dapat dikalahkan kapanpun.

Medan peperangan kembali sunyi. Tidak ada lagi bunyi genderang. Tidak ada lagi jeritan Tatar. Tidak ada lagi takbir para petani. Tidak ada lagi bunyi libasan pedang. Mayat-mayat tentera Tatar mati bergelimpangan dalam bentuk yang mengerikan. Qutuz berjalan di tengah medan perang yang sudah sunyi melihat hasil peperangan selama sehari di bulan Ramadhan yang suci itu.

Kesudahan Yang Baik Buat Raja Yang Hebat

Qutuz sujud ke bumi mensyukuri kemenangan tersebut. Beliau dan tenteranya berhasil membunuh kesemua tentara Tatar. Ya! Kesemuanya. Tidak ada seorang pun dari tentera Tatar yang berhasil meloloskan diri mereka hidup-hidup. Semuanya mati dibunuh oleh tentera Islam di dalam peperangan yang cukup hebat ini.

Kehormatan  umat Islam kini telah kembali. Kematian jutaan umat Islam di Baghdad dan disemua tempat lainnya telah berhasil dibalas oleh Qutuz. Memang beliau adalah seorang pemimpin hebat yang sukses mencipta satu sejarah untuk dibanggakan bagi umat Islam sepanjang zaman. 10 bulan sudah cukup bagi Qutuz untuk menjatuhkantentara Mongol  Tatar yang bermaharajalela di bumi Islam selama lebih dari 40 tahun.

Semua itu berlaku pada hari penentuan, 25 Ramadhan.Memang banyak kemenangan umat Islam terjadi pada bulan Romadhon, bahkan perang Badar pun terjadi di bulan Romadhon.

Akibat Kekalahan Tartar

Pada tanggal 27- Romadhon 658 Qutuz bergerak menuju Damaskus yang sudah ditinggal kabur selama- lamanya oleh pasukan Tartar. Rupanya kemenangan Qutuz amat sangat menggemparkan dan menggentarkan mereka. Negeri Syam pun kini kembali ketangan kaum muslimin, dan Syams kini bersatu bersama Mesir dibawah panji- panji Mamalik dan sanggup bertahan 270 tahun kemudian sebelum akhirnya muncul kekuatan baru yakni kekhalifahan Turki Utsmaniyyah.

Semoga pahlawan seperti Qutuz akan terus ada penggantinya disetiap masa. Aamin.

Kesimpulan

1. Islam akan hancur  jika ummatnya penyakit WAHN, yakni berlebihan cinta dunia, dan takut mati.

2. Pemimpin dan Ulama Islam yang suka memecah belah umat adalah bencana terbesar ummat ini sebagaimana sabda Nabi: “Ada yang lebih aku takutkan dibanding kemunculan Dajjal. Mereka adalah para Ulama yang bejat moral (Ulama’ as- Suu’). Al- Hadist.

3. Seorang pemimpin yang bermoral dan bertasamuh sebagaimana dicontohkan Nabi akan dicintai seluruh ummat dan akan sanggup mengukir sejarah dunia  sebagaimana Thoriq bin Ziyad, Kholid bin Walid, Qutuz maupun Muhammad Al- Fatih.

Sumber : http://goo.gl/L35Nn

Kedudukan Hadits Meninggal pada Hari Jumat

Friday, May 10, 2013

Tidak dapat dimungkiri, hari Jumat adalah sebaik-baik hari dalam satu minggu dan ada keutamaan-keutamaan khusus terkait hari Jumat.

Memang ada riwayat hadis yang menjelaskan seorang Muslim yang meninggal pada hari Jumat atau pada malam Jumat, akan dilindungi Allah SWT dari azab kubur.
Berikut adalah bunyi hadis tersebut. Dari Abdullah bin ‘Amru ra, ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Tidaklah seorang Muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah melindunginya dari fitnah (azab) kubur. (HR Tirmizi dan Ahmad).”
Namun, para ulama hadis berbeda pendapat tentang kesahihan hadis ini. Sebagian besar ulama hadis berpendapat hadis itu adalah hadis dhaif.
Imam Tirmizi ketika meriwayatkan hadis ini menjelaskan hadis tersebut adalah hadis gharib, yang kemudian ditegaskannya lagi sanadnya tidak tersambung (munqathi’/terputus).
Ibnu Hajar al-‘Asqalani menegaskan dalam kitab Fathul Bari sanad hadis ini dhaif dan juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la dengan lafaz yang semisalnya dari Hadis Anas bin Malik, tetapi sanadnya lebih dhaif lagi.
Syekh Syu’aib Al-Arnauth ketika memberi komentar terhadap hadis ini dalam Musnad Imam Ahmad mengatakan sanad hadis itu dhaif.
Kemudian, ia menyebutkan beberapa hadis yang mendukung dan menegaskan semua hadis yang mendukung tersebut tidak bisa digunakan untuk menguatkan hadis ini.

Dan, Albani telah salah karena mengatakan hadis itu hasan atau sahih dalam kitabnya Ahkam al-Janaiz.
Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Abdurrazzak dalam kitabnya al-Mushannaf dengan lafaz “dilepaskan dari azab kubur”, tetapi dalam sanadnya ada Ibnu Juraij yang terkenal dalam mentadlis hadis.
Sebagian ulama mengatakan jika memang kematian seseorang pada hari tertentu memiliki keutamaan atau keistimewaan tentunya hari Senin lebih utama karena pada hari itulah Nabi Muhammad SAW, kekasih dan makhluk paling mulia yang diciptakan Allah SWT, meninggal dunia.
Sedangkan, Syekh Albani dalam kitabnya Ahkam al-Janaiz mengatakan hadis ini berdasarkan banyaknya jalur periwayatan, yakni hadis hasan atau sahih.
Jika hadis di atas adalah hadis sahih maka itu menunjukkan keutamaan bagi Muslim dan Muslimah yang meninggal pada hari Jumat.
Dan, tentunya keutamaan ini hanya bagi kaum Muslimin yang meninggal dalam ketauhidan, yakni keimanannya tidak dinodai oleh kemusyrikan, kekufuran, serta segala yang membatalkan keimanan seseorang.
Sedangkan, mereka yang meninggal dalam kemusyrikan dan kekufuran tentunya akan mendapatkan azab kubur dan siksa neraka sebagaimana yang telah dijanjikan Allah SWT dalam Alquran dan Sunah Rasul-Nya.
Sebagai seorang Muslim dan berpegang pada akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, kita tidak boleh memastikan bahwa seseorang akan masuk surga atau masuk neraka, kecuali yang sudah disebutkan oleh Nabi saw dalam hadis-hadisnya.
Sikap kita terhadap saudara kita sesama Muslim yang meninggal adalah selalu mengharapkan kebaikan baginya, memohonkan ampunan dan rahmat Allah SWT baginya, dan tidak mencela atau menyebut-nyebut keburukan-keburukan yang telah ia lakukan.
Dari Aisyah ra, ia berkata, “Nabi saw bersabda, ‘Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan.” (HR Bukhari). Wallahu a’lam bish shawab.

sumber :republika.co.id penulis Ustaz Bachtiar Nasir

TAHLILAN Menurut Madzhab Imam Syafi'i

Sunday, May 5, 2013

Tulisan ini bersumber dari web Firanda dengan judul “ TAHLILAN ADALAH BID'AH MENURUT MADZHAB SYAFI'I”. mudah-mudahan bermanfaat.

Sering kita dapati sebagian ustadz atau kiyai yang mengatakan, "Tahlilan kok dilarang?, tahlilan kan artinya Laa ilaah illallahh?".

Tentunya tidak seorang muslimpun yang melarang tahlilan, bahkan yang melarang tahlilan adalah orang yang tidak diragukan kekafirannya. Akan tetapi yang dimaksud dengan istilah "Tahlilan" di sini adalah acara yang dikenal oleh masyarakat yaitu acara kumpul-kumpul di rumah kematian sambil makan-makan disertai mendoakan sang mayit agar dirahmati oleh Allah.

Lebih aneh lagi jika ada yang melarang tahlilan langsung dikatakan "Dasar wahabi"..!!!

Seakan-akan pelarangan melakukan acara tahlilan adalah bid'ah yang dicetus oleh kaum wahabi !!?

Sementara para pelaku acara tahlilan mengaku-ngaku bahwa mereka bermadzhab syafi'i !!!. Ternyata para ulama besar dari madzhab Syafi'iyah telah mengingkari acara tahlilan, dan menganggap acara tersebut sebagai bid'ah yang mungkar, atau minimal bid'ah yang makruh. Kalau begitu para ulama syafi'yah seperti Al-Imam Asy-Syafii dan Al-Imam An-Nawawi dan yang lainnya adalah wahabi??!!

A. Ijmak Ulama bahwa Nabi, para sahabat, dan para imam madzhab tidak pernah tahlilan
Tentu sangat tidak diragukan bahwa acara tahlilan –sebagaimana acara maulid Nabi dan bid'ah-bid'ah yang lainnya- tidaklah pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak juga para sahabatnya, tidak juga para tabi'in, dan bahkan tidak juga pernah dilakukan oleh 4 imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafii, dan Ahmad rahimahumullah).
Akan tetapi anehnya sekarang acara tahlilan pada kenyataannya seperti merupakan suatu kewajiban di pandangan sebagian masyarakat. Bahkan merupakan celaan yang besar jika seseorang meninggal lalu tidak ditahlilkan. Sampai-sampai ada yang berkata, "Kamu kok tidak mentahlilkan saudaramu yang meninggal??, seperti nguburi kucing aja !!!".

Tidaklah diragukan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah kehilangan banyak saudara, karib kerabat, dan juga para sahabat beliau yang meninggal di masa kehidupan beliau. Anak-anak beliau (Ruqooyah, Ummu Kaltsum, Zainab, dan Ibrahim radhiallahu 'anhum) meninggal semasa hidup beliau, akan tetapi tak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Apakah semuanya dikuburkan oleh Nabi seperti menguburkan kucing??.
Istri beliau yang sangat beliau cintai Khodijah radhiallahu 'anhaa juga meninggal di masa hidup beliau, akan tetapi sama sekali tidak beliau tahlilkan. Jangankan hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000 bahkan sehari saja tidak beliau tahlilkan. Demikian juga kerabat-kerabat beliau yang beliau cintai meninggal di masa hidup beliau, seperti paman beliau Hamzah bin Abdil Muthholib, sepupu beliau Ja'far bin Abi Thoolib, dan juga sekian banyak sahabat-sahabat beliau yang meninggal di medan pertempuran, tidak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Demikian pula jika kita beranjak kepada zaman al-Khulafaa' ar-Roosyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) tidak seorangpun yang melakukan tahlilan terhadap saudara mereka atau sahabat-sahabat mereka yang meninggal dunia.

Nah lantas apakah acara tahlilan yang tidak dikenal oleh Nabi dan para sahabatnya, bahkan bukan merupakan syari'at tatkala itu, lantas sekarang berubah statusnya menjadi syari'at yang sunnah untuk dilakukan??!!, bahkan wajib??!! Sehingga jika ditinggalkan maka timbulah celaan??!!

Sungguh indah perkataan Al-Imam Malik (gurunya Al-Imam Asy-Syaafi'i rahimahumallahu)

فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا لاَ يَكُوْنُ الْيَوْمَ دِيْنًا

"Maka perkara apa saja yang pada hari itu (pada hari disempurnakan Agama kepada Nabi, yaitu masa Nabi dan para sahabat-pen) bukan merupakan perkara agama maka pada hari ini juga bukan merupakan perkara agama.”
(Al-Ihkam, karya Ibnu Hazm 6/255

Bagaimana bisa suatu perkara yang jangankan merupakan perkara agama, bahkan tidak dikenal sama sekali di zaman para sahabat, kemudian lantas sekarang menjadi bagian dari agama !!!

B. Yang Sunnah adalah meringankan beban keluarga mayat bukan malah memberatkan

Yang lebih tragis lagi acara tahlilan ini ternyata terasa berat bagi sebagian kaum muslimin yang rendah tingkat ekonominya. Yang seharusnya keluarga yang ditinggal mati dibantu, ternyata kenyataannya malah dibebani dengan acara yang berkepanjangan…biaya terus dikeluarkan untuk tahlilan…hari ke-3, hari ke-7, hari ke-40, hari ke-100, hari ke-1000…
Tatkala datang kabar tentang meninggalnya Ja'far radhiallahu 'anhu maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata :

اِصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ

"Buatlah makanan untuk keluarga Ja'far, karena sesungguhnya telah datang kepada mereka perkara yang menyibukan mereka" (HR Abu Dawud no 3132
Al-Imam Asy-Syafi'I rahimahullah berkata :

وَأُحِبُّ لِجِيرَانِ الْمَيِّتِ أو ذِي قَرَابَتِهِ أَنْ يَعْمَلُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ في يَوْمِ يَمُوتُ وَلَيْلَتِهِ طَعَامًا يُشْبِعُهُمْ فإن ذلك سُنَّةٌ وَذِكْرٌ كَرِيمٌ وهو من فِعْلِ أَهْلِ الْخَيْرِ قَبْلَنَا وَبَعْدَنَا لِأَنَّهُ لَمَّا جاء نَعْيُ جَعْفَرٍ قال رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم اجْعَلُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فإنه قد جَاءَهُمْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ

"Dan aku menyukai jika para tetangga mayat atau para kerabatnya untuk membuat makanan bagi keluarga mayat yang mengenyangkan mereka pada siang dan malam hari kematian sang mayat. Karena hal ini adalah sunnah dan bentuk kebaikan, dan ini merupakan perbuatan orang-orang baik sebelum kami dan sesudah kami, karena tatkala datang kabar tentang kematian Ja'far maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'afar, karena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka" (Kitab Al-Umm 1/278)

C. Argumen Madzhab Syafi'i Yang Menunjukkan makruhnya/bid'ahnya acara Tahlilan

Banyak hukum-hukum madzhab Syafi'i yang menunjukkan akan makruhnya/bid'ahnya acara tahlilan. Daintaranya :

PERTAMA : Pendapat madzhab Syafi'i yang mu'tamad (yang menjadi patokan) adalah dimakruhkan berta'ziah ke keluarga mayit setelah tiga hari kematian mayit. Tentunya hal ini jelas bertentangan dengan acara tahlilan yang dilakukan berulang-ulang pada hari ke-7, ke-40, ke-100, dan bahkan ke-1000
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :



"Para sahabat kami (para fuqohaa madzhab syafi'i) mengatakan : "Dan makruh ta'ziyah (melayat) setelah tiga hari. Karena tujuan dari ta'ziah adalah untuk menenangkan hati orang yang terkena musibah, dan yang dominan hati sudah tenang setelah tiga hari, maka jangan diperbarui lagi kesedihannya. Dan inilah pendapat yang benar yang ma'ruf…." (Al-Majmuu' Syarh Al-Muhadzdzab 5/277)

Setalah itu al-Imam An-Nawawi menyebutkan pendapat lain dalam madzhab syafi'i yaitu pendapat Imam Al-Haromain yang membolehkan ta'ziah setelah lewat tiga hari dengan tujuan mendoakan mayat. Akan tetapi pendapat ini diingkari oleh para fuqohaa madzhab syafi'i.
Al-Imam An-Nawawi berkata :



"Dan Imam al-Haromain menghikayatkan –satu pendapat dalam madzhab syafi'i- bahwasanya tidak ada batasan hari dalam berta'ziah, bahkan boleh berta'ziah setelah tiga hari dan meskipun telah lama waktu, karena tujuannya adalah untuk berdoa, untuk kuat dalam bersabar, dan larangan untuk berkeluh kesah. Dan hal-hal ini bisa terjadi setelah waktu yang lama. Pendapat ini dipilih (dipastikan) oleh Abul 'Abbaas bin Al-Qoosh dalam kitab "At-Talkhiis".

Al-Qoffaal  (dalam syarahnya) dan para ahli fikih madzhab syafi'i yang lainnya mengingkarinya. Dan pendapat madzhab syafi'i adalah adanya ta'ziah akan tetapi tidak ada ta'ziah setelah tiga hari. Dan ini adalah pendapat yang dipastikan oleh mayoritas ulama.
Al-Mutawalli dan yang lainnya berkata, "Kecuali jika salah seorang tidak hadir, dan hadir setelah tiga hari maka ia boleh berta'ziah"
(Al-Majmuu' Syarh Al-Muhadzdzab 5/277-278)

Lihatlah dalam perkataan al-Imam An-Nawawi di atas menunjukkan bahwasanya dalih untuk mendoakan sang mayat tidak bisa dijadikan sebagai argument untuk membolehkan acara tahlilan !!!

KEDUA
: Madzhab syafi'i memakruhkan sengajanya keluarga mayat berkumpul lama-lama dalam rangka menerima tamu-tamu yang berta'ziyah, akan tetapi hendaknya mereka segera pergi dan mengurusi kebutuhan mereka.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :



"Adapun duduk-duduk untuk ta'ziyah maka Al-Imam Asy-Syafi'i menashkan (menyatakan) dan juga sang penulis al-Muhadzdzab serta seluruh ahli fikih madzhab syafi'i akan makruhnya hal tersebut…

Mereka (para ulama madzhab syafi'i) berkata : Yang dimaksud dengan "duduk-duduk untuk ta'ziyah" adalah para keluarga mayat berkumpul di rumah lalu orang-orang yang hendak ta'ziyah pun mendatangi mereka.

Mereka (para ulama madzhab syafi'i) berkata : Akan tetapi hendaknya mereka (keluarga mayat) pergi untuk memenuhi kebutuhan mereka, maka barang siapa yang bertemu mereka memberi ta'ziyah kepada mereka. Dan hukumnya tidak berbeda antara lelaki dan wanita dalam hal dimakruhkannya duduk-duduk untuk ta'ziyah…"

Al-Imam Asy-Syafi'i berkata dalam kitab "Al-Umm" :

"Dan aku benci al-maatsim yaitu berkumpulnya orang-orang (di rumah keluarga mayat –pen) meskipun mereka tidak menangis. Karena hal ini hanya memperbarui kesedihan, dan membebani pembiayayan….". ini adalah lafal nash (pernyataan) Al-Imam Asy-syafi'i dalam kitab al-Umm. Dan beliau diikuti oleh para ahli fikih madzhab syafi'i.

Dan penulis (kitab al-Muhadzdzab) dan yang lainnya juga berdalil untuk pendapat ini dengan dalil yang lain, yaitu bahwasanya model seperti ini adalah muhdats (bid'ah)" (Al-Majmuu' Syarh Al-Muhadzdzab 5/278-279)
Sangat jelas dari pernyataan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah ini bahwasanya para ulama madzhab syafi'i memandang makruhnya berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayat karena ada 3 alasan :

(1) Hal ini hanya memperbarui kesedihan, karenanya dimakruhkan berkumpul-kumpul meskipun mereka tidak menangis

(2) Hal ini hanya menambah biaya

(3) Hal ini adalah bid'ah (muhdats)

KETIGA
: Madzhab syafi'i memandang bahwa perbuatan keluarga mayat yang membuat makanan agar orang-orang berkumpul di rumah keluarga mayat adalah perkara bid'ah

Telah lalu penukilan perkataan Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah :

وَأُحِبُّ لِجِيرَانِ الْمَيِّتِ أو ذِي قَرَابَتِهِ أَنْ يَعْمَلُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ في يَوْمِ يَمُوتُ وَلَيْلَتِهِ طَعَامًا يُشْبِعُهُمْ فإن ذلك سُنَّةٌ وَذِكْرٌ كَرِيمٌ وهو من فِعْلِ أَهْلِ الْخَيْرِ قَبْلَنَا وَبَعْدَنَا لِأَنَّهُ لَمَّا جاء نَعْيُ جَعْفَرٍ قال رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم اجْعَلُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فإنه قد جَاءَهُمْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ

"Dan aku menyukai jika para tetangga mayat atau para kerabatnya untuk membuat makanan bagi keluarga mayat yang mengenyangkan mereka pada siang dan malam hari kematian sang mayat. Karena hal ini adalah sunnah dan bentuk kebaikan, dan ini merupakan perbuatan orang-orang baik sebelum kami dan sesudah kami, karena tatkala datang kabar tentang kematian Ja'far maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'afar, karena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka" (Kitab Al-Umm 1/278)

Akan tetapi jika ternyata para wanita dari keluarga mayat berniahah (meratapi) sang mayat maka para ulama madzhab syafi'i memandang tidak boleh membuat makanan untuk mereka (keluarga mayat).
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :



Para sahabat kami (para ahli fikih madzhab syafi'i) rahimahullah berkata, "Jika seandainya para wanita melakukan niahah (meratapi sang mayat di rumah keluarga mayat-pen) maka tidak boleh membuatkan makanan bagi mereka. Karena hal ini merupakan bentuk membantu mereka dalam bermaksiat.
Penulis kitab as-Syaamil dan yang lainnya berkata : "Adapun keluarga mayat membuat makanan dan mengumpulkan orang-orang untuk makan makanan tersebut maka tidak dinukilkan sama sekali dalilnya, dan hal ini merupakan bid'ah, tidak mustahab (tidak disunnahkan/tidak dianjurkan)".

Ini adalah perkataan penulis asy-Syaamil. Dan argumen untuk pendapat ini adalah hadits Jarir bin Abdillah radhiallahu 'anhu ia berkata, "Kami memandang berkumpul di rumah keluarga mayat dan membuat makanan setelah dikuburkannya mayat termasuk niyaahah". Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dan Ibnu Maajah dengan sanad yang shahih" (Al-Majmuu' Syarh Al-Muhadzdzab 5/290)

D. Fatwa para ulama 4 madzhab di kota Mekah akan bid'ahnya tahlilan


Diantara para ulama madzhab syafi'i lainnya yang menyatakan dengan tegas akan bid'ahnya tahlilan adalah :

Dalam kitab Hasyiah I'aanat at-Thoolibin, Ad-Dimyaathi berkata :



"Aku telah melihat pertanyaan yang ditujukan kepada para mufti kota Mekah tentang makanan yang dibuat oleh keluarga mayat dan jawaban mereka tentang hal ini.
(Pertanyaan) : Apakah pendapat para mufti yang mulia di tanah haram –semoga Allah senantiasa menjadikan mereka bermanfaat bagi manusia sepanjang hari- tentang tradisi khusus orang-orang yang tinggal di suatu negeri, yaitu bahwasanya jika seseorang telah berpindah ke daarul jazaa' (akhirat) dan orang-orang kenalannya serta tetangga-tetangganya menghadiri ta'ziyah (melayat) maka telah berlaku tradisi bahwasanya mereka menunggu (dihidangkannya) makanan. Dan karena rasa malu yang meliputi keluarga mayat maka merekapun bersusah payah untuk menyiapkan berbagai makanan untuk para tamu ta'ziyah tersebut. Mereka menghadirkan makanan tersebut untuk para tamu dengan susah payah. Maka apakah jika kepala pemerintah yang lembut dan kasih sayang kepada rakyat melarang sama sekali tradisi ini agar mereka kembali kepada sunnah yang mulia yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dimana  beliau berkata, "Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far", maka sang kepala pemerintahan ini akan mendapatkan pahala karena pelarangan tersebut?. Berikanlah jawaban dengan tulisan dan dalil !!"
Jawaban :



"Segala puji hanya milik Allah, dan semoga shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya setelahnya. Ya Allah aku meminta kepadMu petunjuk kepada kebenaran.
Benar bahwasanya apa yang dilakukan oleh masyarakat berupa berkumpul di keluarga mayat dan pembuatan makanan merupakan bid'ah yang munkar yang pemerintah diberi pahala atas pelarangannya ….



Dan tidaklah diragukan bahwasanya melarang masyarakat dari bid'ah yang mungkar ini, padanya ada bentuk menghidupkan sunnaah dan mematikan bid'ah
, membuka banyak pintu kebaikan dan menutup banyak pintu keburukan. Karena masyarakat benar-benar bersusah payah, yang hal ini mengantarkan pada pembuatan makanan tersebut hukumnya haram. Wallahu a'lam.
Ditulis oleh : Yang mengharapkan ampunan dari Robnya : Ahmad Zainy Dahlan, mufti madzhab Syafi'iyah di Mekah"
Adapun jawaban Mufti madzhab Hanafiyah di Mekah sbb :



"Benar, pemerintah (waliyyul 'amr) mendapatkan pahala atas pelarangan masyarakat dari perbuatan-perbuatan tersebut yang merupakah bid'ah yang buruk menurut mayoritas ulama….
Penulis Raddul Muhtaar berkata, "Dan dibenci keluarga mayat menjamu dengan makanan karena hal itu merupakan bentuk permulaan dalam kegembiraan, dan hal ini merupakan bid'ah"…

Dan dalam al-Bazzaaz : "Dan dibenci menyediakan makanan pada hari pertama, hari ketiga, dan setelah seminggu, serta memindahkan makanan ke kuburan pada waktu musim-musim dst"…
Ditulis oleh pelayan syari'at dan minhaaj : Abdurrahman bin Abdillah Sirooj, Mufti madzhab Hanafiyah di Kota Mekah Al-Mukarromah…

Ad-Dimyathi berkata : Dan telah menjawab semisal dua jawaban di atas Mufti madzhab Malikiah dan Mufti madzhab Hanabilah" (Hasyiah I'aanat at-Thoolibin 2/165-166)

Penutup
Pertama : Mereka yang masih bersikeras melaksanakan acara tahlilan mengaku bermadzhab syafi'iyah, akan tetapi ternyata para ulama syafi'iyah membid'ahkan acara tahlilan !!. Lantas madzhab syafi'iyah yang manakah yang mereka ikuti ??
(silahkan baca juga :

http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/06/tahlilan-dalam-pandangan-nu.html)

Kedua
:  Para ulama telah ijmak bahwasanya mendoakan mayat yang telah meninggal bermanfaat bagi sang mayat. Demikian pula para ulama telah berijmak bahwa sedekah atas nama sang mayat akan sampai pahalanya bagi sang mayat. Akan tetapi kesepakatan para ulama ini tidak bisa dijadikan dalil untuk melegalisasi acara tahlilan, karena meskipun mendoakan mayat disyari'atkan dan bersedakah (dengan memberi makanan) atas nama mayat disyari'atkan, akan tetapi kaifiyat (tata cara) tahlilan inilah yang bid'ah yang diada-adakan yang tidak dikenal oleh Nabi dan para sahabatnya. Kreasi tata cara inilah yang diingkari oleh para ulama syafi'iyah, selain merupakan perkara yang muhdats juga bertentangan dengan nas (dalil) yang tegas :

Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu : "Kami memandang berkumpul di rumah keluarga mayat dan membuat makanan setelah dikuburkannya mayat termasuk niyaahah". Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dan Ibnu Maajah dengan sanad yang shahih"

Berlawanan dengan sunnah yang jelas untuk membuatkan makanan bagi keluarga mayat dalam rangka meringankan beban mereka
Bid'ah sering terjadi dari sisi kayfiyah (tata cara).

Karenanya kita sepakat bahwa adzan merupakan hal yang baik, akan tetapi jika dikumandangkan tatkala sholat istisqoo, sholat gerhana, sholat 'ied maka ini merupakan hal yang bid'ah. Kenapa?, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah melakukannya.

Demikian juga bahwasanya membaca ayat al-kursiy bisa mengusir syaitan, akan tetapi jika ada seseorang lantas setiap kali keluar dari masjid selalu membaca ayat al-kursiy dengan dalih untuk mengusir syaitan karena di luar masjid banyak syaitan, maka kita katakan hal ini adalah bid'ah. Kenapa?, karena kaifiyyah dan tata cara seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya.

Ketiga
: Kalau kita boleh menganalogikan lebih jauh maka bisa kita katakan bahwasanya orang yang nekat untuk mengadakan tahlilan dengan alasan untuk mendoakan mayat dan menyedekahkan makanan, kondisinya sama seperti orang yang nekat sholat sunnah di waktu-waktu terlarang. Meskipun ibadah sholat sangat dicintai oleh Allah, akan tetapi Allah telah melarang melaksanakan sholat pada waktu-waktu terlarang.

Demikian pula berkumpul-kumpul di rumah keluarga kematian dan bersusah-susah membuat makanan untuk para tamu bertentangan dan bertabrakan dengan dua perkara di atas:

-         Sunnahnya membuatkan makanan untuk keluarga mayat

-         Dan hadits Jarir bin Abdillah tentang berkumpul-kumpul di keluarga mayat termasuk niyaahah yang dilarang.

Keempat
: Untuk berbuat baik kepada sang mayat maka kita bisa menempuh cara-cara yang disyari'atkan, sebagaimana telah lalu. Diantaranya adalah mendoakannya kapan saja –tanpa harus acara khusus tahlilan-, dan juga bersedakah kapan saja, berkurban atas nama mayat, menghajikan dan mengumrohkan sang mayat, dll.

Adapun mengirimkan pahala bacaan Al-Qur'an maka hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Dan pendapat yang dipilih oleh Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah bahwasanya mengirimkan pahala bacaan al-Qur'an tidak akan sampai bagi sang mayat.

Kelima
: Kalaupun kita memilih pendapat ulama yang menyatakan bahwa mengirim bacaan al-qur'an akan sampai kepada mayat, maka kita berusaha agar kita atau keluarga yang mengirimkannya, ataupun orang lain adalah orang-orang yang amanah.

Adapun menyewa para pembaca al-Qur'an yang sudah siap siaga di pekuburan menanti kedatangan para peziarah kuburan untuk membacakan al-quran dan mengirim pahalanya maka hendaknya dihindari karena :

-         Tidak disyari'atkan membaca al-Qur'an di kuburan, karena kuburan bukanlah tempat ibadah sholat dan membaca al-Qur'an

-         Jika ternyata terjadi tawar menawar harga dengan para tukang baca tersebut, maka hal ini merupakan indikasi akan ketidak ikhlasan para pembaca tersebut. Dan jika keikhlasan mereka dalam membaca al-qur'an sangat-sangat diragukan, maka kelazimannya pahala mereka juga sangatlah diragukan. Jika pahalanya diragukan lantas apa yang mau dikirimkan kepada sang mayat??!!

-         Para pembaca sewaan tersebut biasanya membaca al-Qur'an dengan sangat cepat karena mengejar dan memburu korban penziarah berikutnya. Jika bacaan mereka terlalu cepat tanpa memperhatikan tajwid, apalagi merenungkan maknanya, maka tentu pahala yang diharapkan sangatlah minim. Terus apa yang mau dikirimkan kepada sang mayat ??!!

Hadits Tentang I'tikaf Dan Hukum-Hukumnya

Friday, January 13, 2012

Hadits Pertama

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Dari Aisyah, semoga Allah ridha kepadanya, “Sesungguhnya Nabi saw. beri’tikaf sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sepeninggalnya”. [Hadits Sahih Riwayat Imam Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad dan Malik]

Penjelasan

1.     Pengertian I’tikaf

Secara bahasa I’tikaf diambil dari kata dasar al ‘Ukuuf. Kata kerjanya adalah ‘a-ka-fa, ya’-ku-fu. artinya “tetap pada sesuatu [tempat] serta manahan diri padanya. Apakah dalam kebaikan ataupun dalam keburukan”.

Dalam beberapa ayat I’tikaf ditujukan kepada sikap tekun beribadah atau berdiam diri di tempat peribadatan dalam rangka persembahan kepada Tuhan. Baik itu dalam rangka menyembah Allah seperti yang dilakukan kaum Muslimin ataupun menyembah berhala sebagaimana yang dilakukan kaum Musyrikin. Perhatikanlah beberapa ayat di bawah ini.

وَانْظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا (طه  : 97)

“Dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)”.

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ  (البقرة : 187)

“Dan janganlah kamu campuri mereka [istri-istrimu]itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”.

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ (الأنبياء  : 52)

“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?"

قَالُوا لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَى (طه : 91)

“Mereka menjawab: "Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.”

قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ  (الشعراء : 71)

“Mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya".

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ  (الأعراق : 138)

“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka…”

Jadi orang-orang kafir juga biasa beri’tikaf di rumah-rumah ibadah mereka dengan cara bertapa, semedi, bersujud dan sebagainya, dalam rangka pengabdian kepada tuhan-tuhan mereka. Sedang yang dimaksud I’tikaf dalam pembicaraan di sini adalah peribadatan kaum muslimin dengan cara berdiam dan mengasingkan diri di mesjid untuk berdzikir, berdoa, tadarrus al-Qur’an, dan shalat  pada waktu-waktu tertentu dengan niyat semata-mata mencari keridhaan Allah SWT.

2.     Pernyataan Siti Aisyah pada hadits di atas “bahwa Rasulullah senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sampai akhir hayatnya” memberi pengertian beberapa hukum:

Pertama, menunjukkan bahwa I’tikaf adalah ibadah yang sangat penting bagi Nabi sehingga beliau memelihara pengamalannya sampai beliau wafat. Kebiasaan I’tikaf ini sudah beliau lakukan pada bulan Ramadhan sebelum beliau diangkat Allah menjadi Nabi dan Rasul. Yaitu dengan cara beliau bertahannuts, beribadah menyendiri di Gua Hira berminggu-minggu lamanya. Sampai pada akhirnya beliau mendapat wahyu dari Allah SWT. Tidak ada dalil dan bukti bahwa setelah beliau diutus jadi Rasul Allah selama tiga belas tahun di Makkah beliau melaksanakan lagi I’tikaf. Baik itu di Gua Hira ataupun di samping Ka’bah. Baru setelah beliau hijrah ke Madinah dan diturunkan kewajiban ibadah shaum, beliau mulai beri’tikaf lagi selama sepuluh hari di bulan Ramadhan.

Kedua, menurut sumber-sumber sejarah Islam, seperti Sierah Ibnu Hisyam, Tarikh Thabary dan Tarikh Ibnu Katsir, bahwa shaum Ramadhan itu mulai disyariatkan pada tahun ke dua dari Hijrahnya Rasul dan kaum muslimin ke Madinah. Sementara peristiwa Hijrah terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal. Berarti pertama kali shaum Ramadhan dilaksanakan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya setelah beliau berada di Madinah selama tujuhbelas bulan. Pada tahun pertama kali diwajibkannya shaum Ramadhan ini, kuat dugaan bahwa Rasulullah tidak melaksanakan I’tikaf. Karena pada bulan Ramadhan tahun kedua Hijrah itu Rasulullah menghadapi pertempuran Badar. Puncak Pertempuran Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Beliau pulang ke Madinah beberapa hari kemudian. Dan setelah itu beliau disibukkan dengan mengurus persoalan tawanan perang Badar.

Demikian juga pada tahun ke delapan Hijrah. Rasululllah dan para sahabatnya tidak sempat melaksanakan I’tikaf. Karena bulan Ramadhan tahun itu terjadi perang penaklukkan kota Mekkah. Yang diikuti dengan peristiwa perang Hawazin dan perang Hunain. Beliau menetap beberapa bulan di Mekkah mengurus berbagai persoalan umat. Terutama mengorganisir kegiatan penyebaran delegasi-delegasi dakwah di kota Mekkah dan daerah-derah sekitarnya. Sehingga beliau baru bisa kembali ke Madinah pada awal bulan Dzulhijjah. Dengan demikian, selama sepuluh Ramadhan Rasulullah tinggal di Madinah, tiga kali Ramadhan beliau tidak menunaikan I’tikaf. Yaitu pada tahun pertama karena belum disyariatkannya shaum Ramadhan, tahun ke dua hijrah karena menghadapi perang Badar, dan tahun ke delapan hijrah karena disibukkan oleh perang penaklukkan Mekkah.

Ketiga, Rasulullah memilih waktu I’tikaf-nya pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Ini menunjukkan keutamaan beribadah pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan melibihi hari-hari yang sebelumnya karena pada salah satu malam dari hari-hari tersebut terdapat peluang Lailatul Qadar yang penuh keberkahan.

3. Bahwa istri-istri Nabi melanjutkan kebiasaan I’tikaf setelah beliau wafat. Ini menjadi dalil bahwa syari’at I’tikaf mencakup kaum laki-laki dan kaum wanita. Serta menunjukkan perintah memelihara dan melanjutkan kebiasaan ibadah sunnah yang utama. Di antara kecintaan keluarga terhadap orang yang sudah meninggal ditunjukkan dengan melanjutkan kebiasaan baik dari orang yang meninggal itu, baik itu orangtuanya ataupun suaminya.

Hadits Kedua

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ أَنْ يَعْتَكِفَ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ فَأَذِنَ لَهَا وَسَأَلَتْ حَفْصَةُ عَائِشَةَ أَنْ تَسْتَأْذِنَ لَهَا فَفَعَلَتْ فَلَمَّا رَأَتْ ذَلِكَ زَيْنَبُ ابْنَةُ جَحْشٍ أَمَرَتْ بِبِنَاءٍ فَبُنِيَ لَهَا قَالَتْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ إِذَا صَلَّى انْصَرَفَ إِلَى بِنَائِهِ فَبَصُرَ بِالأ بْنِيَةِ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا بِنَاءُ عَائِشَةَ وَحَفْصَةَ وَزَيْنَبَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ أَالْبِرَّ أَرَدْنَ بِهَذَا مَا أَنَا بِمُعْتَكِفٍ فَرَجَعَ فَلَمَّا أَفْطَرَ اعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ

Dari Aisyah, semoga Allah ridha kepadanya, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah bermaksud untuk i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Aisyah meminta izin kepadanya untuk ikut beri’tikaf. Beliau mengizinkannya. Kemudian Hafshah meminta Aisyah agar memohonkan izin kepada Rasulullah baginya. Aisyahpun mengabulkannya. Ketika Zainab binti Jakhsy melihat hal itu, ia menyuruh seseorang untuk membuatkan bangunan [tenda] baginya. Adalah Rasulullah apabila selesai shalat [shubuh] beliau masuk ke tempat i’tikafnya. Maka beliau melihat ada beberapa bangunan [tenda i’tikaf]. Beliau bertanya, “Apa ini?”. Mereka mengatakan, “Itu  bangunan [tenda tempat i’tikafnya] Aisyah, Hafshah dan Zainab!”. Rasulullah bersabda, “Apakah kabaikan yang kalian inginkan dengannya? Sungguh aku tidak akan jadi ber-i’tikaf!”. Kemudian beliau pulang. Tatkala lebaran, Rasulullah i’tikaf sepuluh hari di bulan Syawal”. (Hadits Sahih Riwayat Bukhari-Muslim dan yang lainnya)

Penjelasan Hadits

1.     Bagi kaum wanita yang hendak melaksanakan I’tikaf hendaknya meminta izin kepada suaminya.

Tempat pelaksanaan I’tikaf Nabi saw. adalah di Mesjid Jami, yaitu Mesjid Nabawi. Demikian juga istri-istri Nabi, mereka melaksanakan i’tikaf di Mesjid Jami bersama beliau.

2.     Ada perbedaan pendapat dikalangan para fuqaha mengenai tempat yang di bolehkan untuk melaksanakan I’tikaf. Mayoritas ulama sepakat bahwa I’tikaf mesti di Mesjid Jami. Sebagian lain membolehkan di mesjid manapun. Bahkan ada yang berpendapat boleh di tempat selain mesjid. Khusus bagi wanita, sebagian ulama membolehkan mereka beri’tikaf di mesjid atau mushalla dalam rumahnya sendiri. Ada juga yang berpendapat bahwa I’tikaf hanya disyariatkan di tiga mesjid; Mesjid Nabawi di Madinah, Mesjid Al Haram di Mekkah, dan Mesjid Al Aqsha di Palestina. Bahkan ada yang memandang bahwa i’tikaf husus untuk Mesjid Nabawi di Madinah saja. Tidak diperkenankan di mesjid yang lainnya. Akar dari perbedaan pendapat ini adalah mengenai Firman Allah SWT,

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ  (البقرة : 187)

“Dan janganlah kamu campuri mereka [istri-istrimu]itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”.

Apakah pengertian “Kalian sedang i’tikaf di dalam mesjid”  itu maksudnya masjid mana saja atau mesjid khusus yang dipakai Nabi Saw. yaitu Nabawi dan Haram? Apakah mesjid itu harus Mesjid Jami atau tidak, mengingat orang yang sedang i’tikaf itu tidak boleh keluar masuk mesjid semaunya. Maka kalau mesjid itu tidak dipakai berjamaah atau shalat jum’at maka orang-orang yang sedang beri’tikaf akan sering mondar-mandir keluar mesjid untuk shalat jamaah dan jum’atan? Bagaimana dengan wanita yang melaksanakan i’tikaf, sementara mereka tidak diharuskan berjamaah di Mesjid dan tidak ada kewajiban jum’at. Apakah bagi mereka boleh i’tikaf di dalam kamar rumah atau mushala yang ada di dalam bangunan rumahnya? Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itulah maka terjadi perbedaan pandangan. Sementara Rasulullah sendiri tidak memberi pengaturan secara rinci melalui sabda-sabdanya. Melainkan dengan pengamalan secara langsung yang mengandung banyak kemungkinan penafsiran.

Mereka yang berpendapat bahwa I'tikaf hanya dianjurkan di Mesjid Nabawi, Mesjidil Haram atau Mesjidil Aqsha berdalil dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al Ismaily, Al Baihaqi dan At Thahawy dari Khuzaifah bahwa Nabi bersada,

لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة

Tidak ada I'tikaf melainkan di tiga Mesjid (yaitu Mesjidil Haram, Mesjid Nabawy dan Mesjidil Aqsha)

Dalam asbabul wurud hadits di atas diceritakan bahwa suatu ketika Hudzaifah melihat orang-orang beri'tikaf di Mesjid antara rumah Abdullah bin Mas'ud dan rumah Abu Musa. Maka berkata Hudzaifah kepada Abdullah bin Mas'ud, "Orang-orang beri'tikaf di (mesjid) antara rumahmu dan rumah Abu Musa tapi anda membiarkan mereka tidak mencegahnya, padahal anda tahu bahwa Rasulullah bersabda; tidak ada I'tikaf kecuali di tiga mesjid?". Abdullah bin Mas'ud menjawab, "Bisa jadi anda lupa sedang mereka hafal, atau anda salah sedang mereka benar!". Hadits ini menurut Syaekh Al-Albany adalah hadits yang shahih dan menjadi pembatas atas keumuman ayat dan hadits tentang I'tikaf. Masih menurut Al Bany di antara ulama generasi Salaf yang berpendapat dengan hadits ini adalah Hudzaifah Ibnul Yaman, Said Ibnul Musayyib, dan 'Atha.

Adapun mayoritas ulama berpendapat bahwa boleh beri'tikaf di mesjid manapun selama itu mesjid Jâmi sehingga orang yang beri'tikaf tidak keluar masuk mesjid untuk ikut shalat jamaah dan jum'at di mesjid lain. Mereka berpegang kepada keumuman ayat di atas dan tidak berpegang kepada hadits Hudzaifah. Mungkin disebabkan kesahihan hadits tersebut masih diragukan karena tidak diriwayatkan oleh mayoritas ulama hadits yang teliti semisal Bukhari, Muslim, dan yang lainnya. Mungkin juga sekiranya hadits itu shahih pengertian "tidak ada I'tikaf kecuali di tiga mesjid itu"  maksudnya adalah I'tikaf yang paling sempurna. Seperti perkataan Nabi, "tidak beriman di antaramu sehingga mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri". Maksudnya iman seseorang belum mencapai puncak kesempurnaan, bukan berarti ia tidak beriman sama sekali atau kufur. Atau seperti perkataan "tidak ada agama bagi yang tidak amanat", maksudnya tidak mencapai kesempurnaan agama tanpa amanat, bukan tidak beragama sama sekali. Disamping itu pada kenyataannya para shahabat juga ikhtilaf, Ibnu Mas'ud dan Abu Musa membolehkan I'tikaf di mesjid selain tiga mesjid tersebut. Lagi pula jika syariat I'tikaf itu dibatasi dengan tiga mesjid saja, pastilah pembatasan itu dengan pernyataan hadits Nabi yang masyhur, qath'iy shahihnya dan diketahui banyak shahabat, sebab pembatasan atas keumuman ayat Al-Qur'an yang jelas dan tegas sepatutnya juga dengan hadits yang jelas, tegas, shahih dan masyhur di kalangan para ulama. Wallahu A'lam bishawab!   

3.     Dibolehkan membuat tenda, bilik, tirai atau hijab yang layak di dalam mesjid untuk tempat tinggal orang-orang yang melaksanakan i’tikaf. 

Mu’takif atau orang yang beri’tikaf adalah orang yang sedang memusatkan seluruh konsentrasi jiwanya kepada Allah SWT. melalui tafakkur, dzikir, do’a, dan tilawah al-Qur’an, dan hal itu hanya dapat terlaksana dengan mengurangi -atau kalau sanggup- menghentikan aktivitas yang tidak terkait dengan tujuan i’tikaf tersebut. Karenanya untuk menjaga diri dari berkata-kata yang tidak manfaat, atau dari bergaul dan berbaur dengan orang lain yang tidak i’tikaf sehingga jadi terlalaikan kegiatan i’tikafnya, maka sepatutnya orang yang beri’tikaf menempati tempat yang khusus semacam kamar mesjid atau hijab. Apalagi jika yang beri’tikaf itu terdiri dari kaum laki-laki dan kaum wanita yang bukan mahram, sementara mesjid adalah tempat mendirikan shalat jum’at dan shalat berjamaah lima waktu bagi kaum muslimin secara umum, maka membuat hijab pemisah dalam kondisi seperti itu menjadi suatu kewajiban. Hal inilah yang dilakukan Rasulullah SAW. bersama istri-istrinya.

4.     Boleh mengganti i’tikaf yang tidak jadi dilaksankan pada bulan Ramadhan pada bulan Syawwal. Rasulullah saw. membatalkan niyat i’tikaf beliau pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan kemudian beliau menggantinya pada sepuluh hari di bulan Syawwal. Tidak ada penjelasan dalam hadits di atas; apakah Rasulullah menggantinya di sepuluh terakhir bulan Syawal, dipertengahannya ataukah di permulaanya? Di dalam kitab Fathul Bary Syarah Shahih al Bukhary, Ibnu Hajar Al Ashqalany membawakan dua riwayat yang berbeda. Satu riwayat dari Ibnu Fudhail bahwa Rasulullah menggantinya pada “akhir sepuluh” bulan Syawal. Sedang satu lagi riwayat dari Abu Mua’awiyah bahwa beliau menggantinya pada “sepuluh permulaan” bulan Syawal.  Ibnu hajar mengkompromikan kedua riwayat yang berbeda ini dengan mengatakan bahwa “yang dimaksud akhir sepuluh bulan Syawal itu adalah selesainya i’tikaf Nabi”. Jadi mungkin beliau ber’itikaf mulai tanggal satu dari Syawal itu sampai dengan tanggal sepuluhnya.

5.     Dari hadits ini menjadi dalil pula bahwa I'tikaf tidak disyaratkan sambil berpuasa. Sebab tidak ada keterangan bahwa Nabi ketika mengganti I'tikaf di bulan Syawal beliau sambil melaksanakan shaum. Apabial diperkirakan beliau sambil shaum sunnah syawal, ini tentu tidak juga menjadi dalil sebab shaum sunnah Syawal hanyalah enam hari sementara Nabi I'tikafnya sepuluh hari.

6.     Kasus yang diberitakan dalam hadits Aisyah di atas menjadi dalil bahwa boleh membatalkan suatu ibadah sunnat yang sangat utama, semacam i’tikaf,  karena ada suatu hal atau kejadian yang tidak baik. Rasulullah melihat ketidak baikan terjadi pada istri-istri beliau yang saling bersaing dan saling cemburu. Sehingga tiga istrinya membuat tenda di mesjid untuk beri’tikaf  bersama beliau. Ketika Siti Aisyah meminta izin beliau mengizinkannya. Demikian pula ketika Hafshah meminta izin kepada Nabi melalui lisan Aisyah maka Nabipun mengizinkannya. Tetapi Siti Zainab tidak mahu meminta izin dengan perantaraan Aisyah. Beliau langsung membuat tenda di mesjid. Hal ini adalah gelagat yang tidak baik. Nabi saw. tahu persis keakraban Aisyah dengan Hafshah. Tetapi beliau juga sangat akan faham kecemburuan Aisyah terhadap Zainab dan sebaliknya kecemburuan Zainab terhadap Aisyah. Jika beliau membiarkan ini kemudian istri-istri beliau yang lain yaitu Shafiyah, Ummu Habibah  dan Ummu Salamah juga mengikuti langkah Zainab, tentulah akan menimbulkan kesan yang amat negatif dan menodai tujuan mulia dari i’tikaf. Lagi pula keadaan seperti itu akan menimbulkan kesulitan bagi para jamaah shalat karena banyaknya tenda yang terpasang di mesjid. Sementara istri-istri Nabi adalah wanita-wanita terhormat yang tidak boleh bertatapan muka dengan laki-laki lain tanpa dibatasi dengan hijab. Maka layak sekali ketika Nabi bersabda kepada istri-istrinya itu, “Apakah kalian mencari kebaikan dengan cara ini?”. Tentulah Nabi tidak mencela i’tikafnya tetapi mencela motivasi dan dampak negatif yang ditimbulkannya. Sebagai pribadi yang agung, Nabi bukan hanya menyuruh istri-istri beliau membatalkan i’tikafnya namun beliau sendiri juga membatalkannya demi membahagiakan semua pihak dari istri-istrinya. Lalu beliau menggantinya di bulan Syawal itu.

Para ulama fikih berbeda pendapat tentang hukum mengganti atau mengqadha’ suatu ibadah sunnat. Seperti Nabi yang mengqadha’ i’tikaf Ramadhan di bulan Syawal, apakah yang demikian itu wajib? Kalangan Malikiyah berpendapat bahwa setiap ibadah sunnat yang sudah biasa dilaksanakan dan telah diniyatkan secara pasti jika ditinggalkan wajib diqadha’. Sebagaimana Nabi mengqadha’ i’tikaf dan mengqadha’ shalat ba’diyah dhuhur pada  waktu ba’da ‘Ashar. Pendapat ini tidak disetujui oleh mayoritas ulama, sebab sebagaimana ditetapkan dalam kaidah fiqih bahwa semata-mata Nabi melaksanakan sesuatu belum tentu menunjukkan bahwa hal tersebut wajib. Lagi pula, kalaulah mengqadha’ i’tikaf itu wajib bagi yang sudah terbiasa atau yang sudah meniyatkan kemudian membatalkannya, seharusnya istri-istri Nabi juga mengqadha’. Maka ketika istri-istri Nabi tidak mengqadha’nya dan Nabipun tidak memerintahkannya kepada mereka, ini menunjukkan bahwa mengqadha’ i’tikaf tersebut tidaklah wajib, melainkan suatu anjuran kebaikan semata. Hal ini terkait dengan kebiasaan Nabi saw. yang tidak suka meninggalkan suatu ibadah sunat yang sudah rutin beliau kerjakan.

Demikian juga dipilihnya bulan Syawal sebagai bulan pengganti ‘itikaf Nabi tidak dapat dijadikan dalil bahwa mengganti i’tikaf itu mesti di bulan tersebut. Sebab asal dari kebolehan mengqadha’ itu berlaku umum pada setiap bulan selain Ramadhan, kecuali jika ada dalil yang mengkhususkannya.

Hadits Ketiga

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ

Dari Aisyah, semoga Allah ridha kepadanya, “Adalah Rasulullah apabila beliau bermaksud I’tikaf, beliau shalat shubuh kemudian masuk ke tempat i’tikafnya”. (Mutafaq Alaih)

Penjelasan

Berdasarkan hadits di atas, Imam al Auza’iy, Al laits dan Ats Tsaury menyatakan bahwa waktu mulai melaksanakan i’tikaf itu adalah setelah shalat shubuh [yaitu pada pagi hari tanggal ke duapuluh satu Ramadhan]. Tetapi Imam yang empat dan beberapa ulama lain mentakwilkan hadits di atas. Menurut mereka, bahwa yang dimaksud masuk ketempat i’tikaf itu adalah ke tenda tempat menyendirinya di mesjid. Sedang i’tikafnya itu sendiri sudah dimulai sejak dari waktu maghrib malam ke duapuluh satu.

Hadits Keempat

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا قَالَتِ اعْتَكَفَتْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةٌ مِنْ أَزْوَاجِهِ مُسْتَحَاضَةٌ فَكَانَتْ تَرَى الْحُمْرَةَ وَالصُّفْرَةَ فَرُبَّمَا وَضَعْنَا الطَّسْتَ تَحْتَهَا وَهِيَ تُصَلِّي

Dari Aisyah, semoga Allah meridhainya, ia berkata, “Seorang istri Nabi ikut beri’tikaf bersama beliau padahal dia sedang istihadhah [keluar darah karena penyakit bukan karena haid], ia melihat darah merah kekuning-kuningan. Terkadang kami meletakkan mangkok di bawahnya ketika ia sedang shalat”. (Hadits Mutafaq Alaih)

Penjelasan Hadits

1.     Hadits di atas menjadi dalil bahwa istri-istri Nabi ikut i’tikaf bersama beliau. Nampaknya pelaksanaan i’tikaf yang disebut dalam hadits ini berbeda dengan kejadian yang disebutkan terdahulu. Dimana Nabi dan istri-istrinya membatalkan i’tikaf dan beliau menggantinya pada bulan Syawal. Sementara pada hadits ini disebutkan bahwa istri-istri Nabi menyertai beliau dalam i’tikafnya dan Nabi mengizinkannya.

2.     Wanita yang sedang istihadhah tetap wajib shalat dan ia boleh beri’tikaf di mesjid selama dapat menjaga kebersihan mesjid dari tetesan darahnya.

3.     Pada hadits ini Siti Aisyah tidak menyebutkan siapa istri Nabi yang istihadhah itu. Tetapi dalam riwayat Said bin Manshur disebutkan bahwa istri Nabi tersebut adalah Ummu Salamah. 

Oleh. Jeje Zainudin

Dari Redaksi

NyantriTek